ARTIKEL

Menjilat Bintang

Oleh: Handi Salam
Redaktur Di Sukabumi

Setiap hari manusia berimajinasi dari kehidupan yang dijalaninya. Kian cepat dari waktu kewaktu, masa lalu yang buruk seakan ditinggalkan dan hal yang baru terus diciptakan. Dan bagi orang-orang yang membenamkan diri dari dalam nostalgia akan selalu mengatakan, bahwa masa yang akan datang adalah cerminan masa lalu yang terus diulang.

Untuk beberapa hal saya juga suka merasakan seperti itu. Turun naik iman dalam hati, dan berputarnya kehidupan si kaya dengan si miskin terus begantian seiring waktu. Itu hukum alam yang tidak bisa dilawan seperti terjadinya siang dan malam. Beberapa bulan terjadi demontrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa, sebetulnya hal itu adalah perulangan kembali dari waktu-waktu masa lalu. Cuma aktornya yang berganti.

Saya tidak akan mengajak untuk merenung soal itu, faktanya manusia di jagat raya ini yang terkadang hanya sebagai penonton dari drama besar kolosal di kehidupan ini yang dimainkan oleh orang-orang tangan besi. Saya pernah merasakan kegelisahan sebagai seorang manusia yang hidup di daerah terpencil dengan penuh masalah.

Mungkin, kegelisahan ini tak saya rasakan sendiri. Buktinya banyak yang melakukan perlawan secara terbuka. Hanya saya, cuma mampu berandai-andai saja, sudah cukup bagi saya saat ini dan berkata dalam hati adalah teori.

Bruno Giordano, seorang pastor Italia abad ke-16, harus dibekap mulutnya dan dibakar hidup-hidup karena mendukung teori heliosentris Copernicus yang bertentangan dengan iman gereja waktu itu bahwa bumi adalah pusat semesta. Galileo Galilei, astronom yang juga dijuluki ”bapak ilmu fisika modern”, harus dikucilkan sampai mati karena juga penyokong teori Copernicus.

Charles Darwin sangat tertekan saat mengumumkan teorinya karena tahu dirinya berseberangan dengan gereja. Mungkin hingga sekarang teori evolusi dianggap sebagai cemooh atau subversi terhadap iman bahwa manusia diciptakan sempurna sejak awal mengikuti citra Tuhan.

Itu semua adalah adegan-adegan besar di dalam narasi semesta dan kehidupan manusia. Di dalamnya ada narasi-narasi kecil tentang kehidupan individu-individu, tentang kehidupan kita sendiri, yang tidak kalah rumitnya. Kita memerlukan pengetahuan dan kecakapan yang memadai untuk menjalaninya.

Orang-orang bugis katanya mungkin bisa meramal seperti orang suku maya yang tinggal di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah. Mereka bisa mengetahui akan seperti apa yang akan terjadi didepan. Saya pernah dikasih tau, bahwa cerminan dunia kedepan adalah masa lalu. Meski situasi yang berbeda dan tokohnya beda mungkin situasinya akan sama terjadi.

Meski ada keinginan kuat untuk membuka akan tentang fungsi kehidupan, tetapi saya tak punya hak dan ilmu banyak untuk berbicara. Nanar, meronta dan berlari agar tidak menjadi bagian orang-orang yang salah disekitar kita adalah salah satu cara yang terbaik saat ini.

Matahari, bulan dan bintang adalah salah satu sumber kesadaran, saat pagi tiba sinar matahari ditunggu banyak orang untuk menandakan kehidupan masih berjalan. Sinar bulan dan bintang adalah kesadaran hati yang bersuasana terang benderang. Dengan menjilat matahari, bulan dan bintang dinyakini akan menemukan kesadaran diri.

Ketidakmampuan hanya terasa getir menerjemahkan setiap masalah dan rekayasa kehidupan ini. Berbicara lantang haruslah berhati-hati, kalau bisa diendapkan menjadi ‘tangis dan duka’. Membahas soal ini, tentunya saya bermaksud kepada jalinan sejarah dan latar sosial budaya yang seperti kembali kemasa lalu.

Kita secara perlahan dicekik oleh aturan-aturan yang diterbitkan oleh orang-orang pilihan kita sendiri. Air, kesehatan, keamanan dan lainnya serasa harus dibayar dengan rupiah.

Tidak ada makan gratis, tidak ada sopan santun atau saling menolong yang gratis. Pasti ada udang dibalik semua itu. Coba fikirkan saat bangun pagi tiba, apa yang pertama kali difikirkan. Tagihan, utang atau lainnya. Padahal, dokter menyarankan setiap bangun bagi harus diawali dengan seyuman meski keadaanya buruk sekalipun.

Jujur saya jengkel dengan saat situasi politik memanas kemarin. Drama dari drama yang dipertontonkan di pentas Nasional merembet ke daerah-daerah. Kesewenangan arogansi hemoni para pemangku kebijakan seakan tidak mau kalau saling mengklaim saling benar. Korbannya tentu kita orang-orang yang berfikir setengah-setengah. Ketika mereka tau melakukan salah, melawan juga hal yang salah.

Matahari, bulan dan bintang adalah harapan kesadaran kita saat ini. Mereka perlu dijilati agar mampu merasakan kesadaran diri itu sendiri, walaupun didekap secara panas dan sangat menyakitkan. Namun, itu tidak ada pilihan.

Kita memerlukan kecakapan untuk mengerjakan banyak hal karena hidup tidak mungkin dijalani dengan duduk-duduk saja. Kita bisa begitu nanti di surga. Kata guru sekolah saya di masa kecil, di surga segala yang kita inginkan langsung tersedia di depan mata, bahkan tanpa kita mengucapkannya. ”Jadi, kalian harus berbuat baik, harus menjadi orang baik,” katanya. Saya bertekad menjadi orang baik. Sebab, saya ingin masuk surga.

Tetapi, bagaimana cara menjadi manusia yang baik? Jatuh cinta kepada seseorang sudah akan membuat kita berantakan jika kita tidak tahu bagaimana membuat orang itu juga mencintai kita dan tidak tahu bagaimana mengelola perasaan jika cinta kita ditolak. Banyak cerita besar dikarang orang dengan tema kehancuran cinta.

Kita harus mendapatkan pendidikan yang baik, mendapatkan pengetahuan, memiliki kecakapan, menegakkan reputasi, dan lain-lain. Dan bagaimana pula cara mengurus anak agar dia tidak tumbuh menjadi penyakit.

Selanjutnya, Anda perlu mendapatkan uang. Anda harus bersaing dengan orang-orang lain untuk mendapatkan profesi yang baik, Anda harus memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan rata-rata orang. Jika adan politisi anda harus melakukan apapun, ya apapun agar bisa menjadi politisi yang sepertinya digemari.

Jika anda tidak mampu, setidaknya anda bisa membuat orang politisi senang dengan anda dengan cara merayu dan mungkin sedikit menjilat agar kehidupan anda baik-baik saja. (*)

Tags

Tinggalkan Balasan

Check Also

Close