Saya akan mencoba menyederhanakan tiga pranata sosial dalam kolom ini: Keluarga, Sekolah, dan Lembaga Keagamaan. Penyederhanaan ini sekadar untuk memberikan arah dan pandangan terhadap kemunculan kasus-kasus perundungan.
Hubungan kekeluargaan mengalami degradasi dan semakin longgar sejak transisi dari pola hidup paguyuban ke patembayan. Manusia modern telah menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak-anak kepada pranata lain; yaitu sekolah dan lembaga keagamaan. Hubungan erat antara orangtua dan anak-anak, rata-rata terjadi di usia balita, saat memasuki usia sekolah (7 tahun), hubungan ini mulai berkurang 4-7 jam. Anak-anak menjadi lebih intensif bersosialisasi dengan anak-anak lain dari berbagai latar belakang berbeda.
Menyerahkan sepenuhnya pengasuhan dan pendidikan anak kepada pranata lain secara utuh dan berlebihan, sama dengan memasrahkan anak-anak untuk diapakan dan dibagaimanakan oleh pranata sosial lain. Acapkali, ketika pranata sosial memberikan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh keluarga (misal; memberikan sanksi fisik), orangtua merasa keberatan dan memandang sekolah dan lembaga keagamaan tidak bisa mendidik anaknya menjadi lebih baik.
Kurikulum pendidikan memang melarang pranata pendidikan memberikan hukuman fisik kepada peserta didik. Kita telah banyak menyaksikan, tindakan fisik yang dilakukan oleh guru terhadap siswa justru dapat membawa guru pada masalah hukum. Maka, cara yang harus ditempuh oleh orangtua dan sekolah adalah membangun komunikasi dan mengupas tata-tertib sekolah secara holistik agar aturan-aturan yang diterapkan di sekolah dipahami oleh orangtua.
Dalam dunia sosial yang lebih luas, kita mengenal struggle of life, survival of the fittest, pandangan ini sering disalah tafsirkan di dalam kehidupan. Untuk bertahan dalam hidup dan mempertahankan dirinya manusia harus menjadi yang terhebat. Padahal penafsiran yang tepat darinya yaitu: manusia yang mudah beradaptasilah yang akan terus bertahan.
Adaptasi dari kebiasaan lama ke norma baru sepertinya masih sulit dilakukan, manusia justru lebih mudah diinvasi oleh apa yang mereka pandang paling baru, contoh nyata darinya: manusia mudah dikuasai oleh ponsel cerdas daripada beradaptasi menjadi lebih cerdas dari ponsel.
Bagaimana seorang anak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah sangat kentara saat mereka berada di dalam pranata pendidikan. Ada ratusan karakter di sekolah, mereka harus disatupadukan di dalam satu ruang kelas, sesekali diajak ke luar saat pelajaran penjaskes, dan satu tahun sekali diajak ke luar daerah saat melakukan widyawisata.
Dari sini telah muncul kategori dan karakter anak. Dengan menggunakan bahasa nonilmiah sebut saja di sekolah terdiri dari Si Pintar, Si Kedul, Si Rajin, Si Pelor (tukang tidur), Si Jujur, Si Cerewet, Si Sombong, Si Tengil, Si Heboh, Si Bawel, Si Culun, Si Lugu, Si Lucu, Si Tukang Kabur, dan lain-lan.
Sebutan-sebutan di atas menjadi corak khas sekolah. Para siswa di tahun 80-90an merasakan kondisi ini, mereka biasa saling sebut nama orangtua. Anak pendiam dan jarang berbicara selalu dirundung oleh anak yang merasa dirinya lebih jago.
Namun secara alamiah, Si Pendiam ternyata sedang mengeluarkan potensi adaptasi dirinya. Ia memang akan aman dari gangguan bertubi-tubi dari Si Kuat hanya dengan tetap diam, akan lebih aman lagi saat Si Pendiam mengeluarkan jurus pamungkasnya: nangis sambil kelojotan di atas lantai, Si Kuat langsung minggat.
Sekolah dan ruang kelas merupakan pentas peran para siswa dengan karakter dan potensinya masing-masing. Mereka harus mengeluarkan kemampuan terbaik darinya, tanpa harus dipaksa.
Si Pintar menjadi duta sekolah dan menjadi delegasi ke setiap perlombaan, Si Lugu menjadi penjaga kelas dengan sikap acuhnya, Si Cerewet menjadi pahlawan kelas saat ada kelas lain berani mengolok-olok kelas atau warga kelasnya. Dengan demikian sekolah menjadi lebih hidup dan berwarna.
Di awal reformasi terjadi arus balik perubahan, saat kita memandang bahwa sistem pendidikan luar negeri merupakan sistem terbaik. Kita dikejutkan dan harus mengejar ketertinggalan tanpa melihat relevansi antara regulasi yang diterapkan dengan kondisi peserta didik dan sumber daya yang ada.
Para guru yang biasanya hanya mendikte materi, menulis di papan tulis, berceramah di depan kelas, membuat soal ulangan, dan menilai, tiba-tiba harus menjadi seorang administrator yang mahir mengadministrasikan tentang apa yang dikerjakan oleh dirinya.
Situasi tersebut bukan adaptasi, melainkan revolusi, perubahan yang harus serba cepat. Yang terjadi adalah, di samping telah menunaikan kewajibannya, para guru menjadi lebih sibuk dengan angka-angka yang tertera pada aplikasi daring pendidikan.
Kekerasan, merasa paling pintar, merasa lebih tinggi jabatan, merasa lebih berpendidikan, saling serang, bukan karakter atau ciri survival of the fittest. Sebab, jika ukuran daya tahan manusia diukur dengan semua itu, spesies manusia sudah musnah sejak zaman dulu di saat piramida rantai makanan masih dikuasai oleh binatang buas. Nyatanya, dengan adaptasi terhadap lingkungannya lah manusia masih tetap bertahan sampai sekarang, sekaligus dengan karakter dan bakat bawaan yang harus terus diasah oleh pranata-pranata sosial.
Perundungan yang dialami oleh anak teman saya harus dipandang sebagai masalah besar bagi pranata sosial yang masih berjalan. Semua harus serius memikirkan cara dan formula ampuh agar kekerasan tidak hadir di lembaga pendidikan. Yang harus hadir di lembaga pendidikan adalah karakter-karakter anak dan sesuai dengan tumbuh-kembangnya. ***





