ARTIKEL

Manusia: Pewaris Keenam Alam Semesta

×

Manusia: Pewaris Keenam Alam Semesta

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Era Holosen dan Antroposen

Bank bjb Tandamata

Pada beberapa paragraf sebelumnya saya menyebutkan proses pemusnahan keenam planet Bumi mulai berlangsung pada 200 juta tahun lalu. Selama rentang waktu sejak hantaman meteor membuat Bumi rusak, kemudian alam mengambil alih masalah, memperbaiki kembali struktur dirinya, memulihkan mahluk-mahluk hidup melalui seleksi alam dan evolusi, termasuk melakukan pemulihan terhadap lapisan geosfer.

Kerja alam ini telah menghasilkan sesuatu paling menakjubkan dan mendukung kehidupan manusia yaitu keseimbangan dan keselarasan seluruh penghuni Bumi. Tidak terjadi penurunan dan peningkatan suhu secsra ekstrim, cuaca terus berjalan stabil selama 200 tahun, tidak ada kerusakan ekologis, dan iklim berjalan normal, hingga pergantian mucim pun dapat ditebak oleh manusia terdahulu.

Keseimbangan alam ini telah meningkatkan kemampuan manusia. Keteraturan iklim dan musim berdampak baik bagi manusia dalam bercocok tanam, kapan waktu yang tepat untuk menanam dan kapan saat yang baik untuk memanen hasil pertanian.

Keanekaragaman hayati di Bumi juga berdampak baik terhadap pembangunan sosial kultural manusia.

Manusia yang tinggal di tempat dengan keberlimpahan sumber daya alam dan lingkungan sejuk cenderung menghasilkan peradaban yang tinggi karena memiliki waktu luang untuk tidak sekedar memikirkan dirinya sendiri, juga memikirkan bagaimana membangun koordinasi untuk dapat hidup bersama. Di era holosen, tidak akan kita jumpai manusia mengeluhkan  cuaca panas, suhu cenderung stabil, naik dan turun suhu hanya sebesar 1 derajat celcius saja.

Era holosen mulai runtuh sejak revolusi agrikultur dan terus berlanjut sampai sekarang. Penemuan sumber mineral fosil kemudian digunakan oleh manusia untuk menggerakkan mesin-mesin pabrik dan kendaraan telah menghasilkan emisi karbon berlebihan.

Di abad ke 17 tidak terjadi perubahan suhu ekstrim mengingat pada zaman itu keberadaan hutan belantara sekitar 70% menyelimuti daratan Bumi.

Keberadaan vegetasi alami dan satwa-satwa yang beraneka ragam menjadi penyeimbang alam, gas karbon yang dihasilkan dari emisi bahan bakar fosil ditangkap kembali oleh tumbuhan dan disalurkan ke tempat yang seharusnya: di dalam tanah.

Penemuan dan penggunaan bahan bakar fosil menjadi penanda babak baru, era antroposen, perubahan alam di berbagai bidang  oleh tindakan manusia.

Penemuan-penemuan baru oleh manusia sejak abad ke 17 sampai tahun 1990-an lebih banyak digunakan untuk mengeksploitasi alam, mengubah iklim sosial dan kultural masyarakat, dan berdampak terhadap kerusakan ekologis.

Sisi buruk teknologi ketika dipegang oleh manusia yang tidak tepat dan hanya mengeruk keuntungan finansial telah menghabiskan vegetasi alami, deforestasi dan penggundulan hutan terjadi di mana-mana, dan pencemaran lingkungan.

Jika sebelumnya daratan planet Bumi ini diselimuti oleh 70%  tumbuhan, sekarang hanya menyisakan sekitar 45% saja.

Sampai tahun 90-an, orang Sukabumi belum merasakan gerah (ngelekeb) di malam hari. Sukabumi mendapatkan julukan kulkas gede karena cuaca sejuk dan dingin.

Pada tahun itu, Bumi justru sedang mulai memasuki era yang tidak pernah kita kenal sebelumnya: pemanasan global yang dicitikan oleh perubahan suhu yang tidak menentu. Rata-rata kenaikan suhu sejak tahun 1990 sampai sekarang yaitu 4 derajat celcius.

Artinya, jika sebelumnya, suhu terendah Sukabumi di angka 21 derajat celcius, saat ini telah mencapai 25 derajat celcius. Begitu juga pada suhu tertinggi mengalami kenaikan dari 28 hingga 33 derajat celcius.

Perubahan suhu ekstrim ini disebabkan oleh banyak hal; pelepasan gas karbon, gas rumah kaca, alih fungsi lahan dari lahan terbuka hijau menjadi pemukiman.

Penggunaan kendaraan bermesin oleh manusia yang terus meningkat telah menghasilkan emisi karbon berlebih. Karbon tidak dapat dikembalikan ke dalam tanah karena lahan terbuka hijau telah berubah menjadi areal pemukiman.

Tak mengherankan, kondisi saat ini dirasakan lebih panas dan gerah dari 30 tahun sebelumnya. Deforsifikasi pengolahan lahan tanpa menanami tumbuhan tingkat tinggi pada suatu lahan telah membantu pelepasan karbon ke atmosfer dan ini telah memicu peningkatan panas pada lapisan Bumi paling luar.

Pemukiman beton yang terus digalakkan melalui program perumahan atas alasan kebutuhan papan menjadi penyumbang kemunculan pemanasan global. Padahal leluhur Sunda telah memberikan contoh konsep yang tepat pembuatan pemukiman dan jenis bangunan yang ramah lingkungan, yaitu arsitektur rumah panggung. Hanya saja, kearifan lokal ini telah kita abaikan dan dicap kuno oleh manusia modern yang menyanjung betonisasi.

Pada prinsipnya, manusia memang melakukan kolaborasi dalam melakukan pengrusakan alam. Jalan aspal dan beton dibangun untuk memfasilitasi gerak kendaraan bermesin yang melahirkan emisi karbon.

Manusia membuat pemukiman dan betonisasi sama artinya dengan tidak menyediakan ruang yang tepat agar gas karbon ditangkap oleh tumbuhan. Cuaca panas dan gerah yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan secara perlahan telah mengubah lingkungan sosial kultural manusia; kecemasan, stres, mudah marah, dan tidak sabar merupakan tipikal masyarakat yang mendiami tempat-tempat panas dan berbeton.

Watak manusia menjadi sekeras beton karena kita memang tidak pernah lepas dari penjara beton. Kaki manusia setiap hari bersentuhan langsung dengan beton tanpa mengenal tanah. Maka dalam masyarakat kita muncul individu yang egois, manusia yang akan menjadi agen kerusakan alam.

Manusia memang telah melakukan ikhtiar melalui seminar dan pertemuan tentang perubahan iklim. Namun ikhtiar ini memerlukan keterlibatan seluruh manusia. Ikhtiar ini dilakukan dengan menciptakan apapun yang ramah lingkungan.

Tanpa upaya bersama dan berkelanjutan, pada tahun 2040 nanti kemungkinan besar Bumi akan benar-benar mulai mengalami fase pembentukan lahan tandus, perang saudara akibat kekurangan pangan, dan suhu rata-rata hingga 35 derajat celcius. Kepunahan keenam tidak lagi disebabkan oleh hujan meteor, melainkan oleh sikap abai dan teledor manusia dalam memosikan dirinya sebagai khalifah atau penjaga planet Biru ini.

Perbuatan kita di masa sekarang, akan berdampak pada anak dan cucu kita di masa depan. Sungguh, kita tidak mengharapkan masa depan anak dan cucu kita dihantui oleh hujan badai kemudian tiba-tiba panas, badai pasir, dan peristiwa alam ekstrim lainnya. ***