IKN Portal

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

YEEEIIIII…. akhirnya saya tiba di Titik Nol Indonesia. Di ibu kota negara yang baru: Nusantara. Di pedalaman Kaltim itu.

Bacaan Lainnya

Itu dua hari sebelum Lebaran kemarin. Saya paksakan ke sana. Toh pesawat saya balik ke Surabaya jam 14.00.

Pagi itu saya berangkat dari Samarinda. Lewat jalan tol baru Samarinda-Balikpapan. Yang panjangnya 89 km itu.

Saya berangkat dari Hotel Mercure pukul 7 pagi. Di bulan puasa, pada jam seperti itu, kota masih sepi.

Dari hotel, saya belok kiri ke arah Pelabuhan Samarinda. Itulah pelabuhan mahal. Di tepian sungai Mahakam nan luas. Tiap tahun harus dilakukan pengerukan. Pendangkalan sungai Mahakam tak tertahankan.

Dari situ saya melewati Masjid Raya, Pasar Pagi. Bekas kampung kumuh. Dibangun ketika saya masih mahasiswa di sana. Lalu lewat Teluk Lerong, Islamic Center, sampai ke jembatan indah yang melengkung di atas sungai.

Rute itu perlu saya sebut secara khusus: itulah area main-main saya ketika masih mahasiswa di Samarinda. Ketika Islamic Center itu masih lahan Perhutani. Dan jembatan itu baru mimpi.

Itu juga rute saya cari berita. Dengan cara naik sepeda. Ketika saya baru belajar menjadi wartawan. Wartawan miskin di koran lokal yang juga miskin: Mimbar Masyarakat.

Dulu untuk ke bagian kota di Samarinda seberang harus naik sampan. Begitu banyak sampan berlalu-lalang. Termasuk sampan yang yang menjual kue ontok-ontok, sanggar, ketan berserundeng dan teh susu.

Kini sudah ada tiga jembatan besar yang menghubungkan dua sisi Kota Samarinda.

Turun dari jembatan itu ada simpang tiga. Sebelum ada jalan tol, saya belok kanan menuju Balikpapan. Ketika pertama merantau ke Kaltim jalan itu pun belum ada.

Waktu itu dari Balikpapan harus naik kendaraan umum. Jeep lama Land Rover. Penuh sesak. Bergelantungan. Menuju Handil II. Lalu naik speed boat menyusuri sungai Mahakam. Ke arah hulu. Ke Samarinda. Speed boat ”Sapu Lidi” idola banyak orang.

Kemarin itu, turun dari jembatan besar saya langsung lurus. Melewati Stadion Palaran yang terlihat telantar. Itulah stadion yang dibangun ketika Kaltim jadi tuan rumah PON 15 tahun lalu.

Jalan kembar di depan stadion itu pun telantar separo. Parah. Sisi timurnya hancur. Tidak bisa dipakai. Sudah bertahun-tahun. Jadilah sisi barat jalan kembar ini menjadi jalan dua arah.

Begitu melewati stadion terlihatlah pintu tol. Itu ujungnya. Itu kilometer 89.

Saya nanti harus exit di pintu tol km 36. Berarti akan menempuh 53 km saja.

Sepanjang perjalanan tol tidak perlu dilaporkan. Tidak ada yang menarik. Juga tidak ada exit di antara 89 – yang 36 itu. Rest area juga hanya ada satu. Itu pun sudah di dekat km 36.

Pemandangan kanan kiri juga biasa saja. Hutannya tidak ada lagi. Di sana-sini terlihat bekas galian batu bara. Yang tidak nyaman di mata.

Saya pun keluar dari tol di km 36 itu: exit Samboja/Sepaku. Ke kiri ke Samboja –kota minyak di zaman Belanda yang kini kota kelahiran Rina, finalis Dangdut Indosiar.

Ke kanan, ke Sepaku. Ibu kota negara yang baru di kecamatan Sepaku itu.

Sebelum ini saya pernah mencoba exit 36. Sebelum Covid-19. Ketika jalan tolnya belum sepenuhnya jadi. Dari arah Balikpapan. Lalu balik lagi. Tujuan saya memang hanya mencoba tol baru.

Baca juga: Ibu Kota Sepaku

Kali ini saya punya tujuan khusus: ke IKN. Sudah begitu heboh tapi saya belum pernah ke sana. Anda juga kan?

Kurang 1 Km dari exit itu tibalah di jalan lama Samarinda-Balikpapan. Saya ikuti jalan lama itu. Tidak sampai satu menit. Ada simpang tiga. Yang lurus ke Samarinda. Saya ikut yang belok kiri. Inilah jalan satu-satunya saat ini untuk menuju Titik Nol IKN.

Jalan masuk ini mulus. Dua jalur. Kanan kirinya hutan. Tidak lebat tapi rindang. Teduh. Sedikit naik turun. Tidak banyak kelokan tajam.

“Pinggir hutan ini harus dijaga. Jangan sampai dijarah rumah liar atau kaki lima,” kata saya dalam hati.

Biasanya, kalau lalu-lintas sudah ramai kelak, pinggir jalan seperti ini menjadi tidak indah lagi. Dan tidak ada yang peduli untuk mengamankannya.

Saya menikmati perjalanan di tengah hutan ini. Bayangan saya, seperti itulah sepanjang jalan menuju IKN. Hutan. Hutan. Hutan. Rindang. Rindang. Rindang.

Ups… tidak.

Hanya sekitar 20 menit yang seperti itu. Setelahnya, mulailah terlihat rumah kayu di pinggir jalan. Lalu warung. Syukurlah tidak banyak. Hanya terlihat satu menit sekali. Tidak sampai merusak suasana teduh di dalam hutan.

Saya pun kembali salah duga. Kian ke dalam ternyata kian ramai. Mulailah terlihat kampung kecil. Rumah-rumah kayu. Kian lama kian banyak kampung. Kian besar. Kian padat. Kian ramai.

Lalu terlihat gerbang sederhana. Itulah gerbang masuk wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara. Saking sederhananya sampai hanya seperti gerbang kampung.

Ini tanda-tanda kurang baik.

Benar.

Setelah gerbang itu tidak ada lagi hutan. Kanan kiri jalan sudah padat dengan rumah. Kayu. Beton. Campuran. Toko dan warung. Bengkel dan potong rambut.

Deretan kampung itu tidak putus-putusnya. Jauh lebih panjang dari yang rindang tadi.

Lalu terlihat pula kota kecil. Itulah kota Kecamatan Sepaku. Padat. Sesak. Apalagi ketika memasuki down town Sepaku. Jalannya macet. Ada pasar yang ramai sekali. Sampai tumpah ke pinggir jalan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.