GURU JAMAN OLD KID JAMAN NOW

Kata old dan now sebenarnya telah ada di dalam kamus sejak kamus Bahasa Inggris ditulis oleh Samuel Johnson pada tahun 1755. Old dan now – secara harfiah- memiliki arti lama dan baru atau tua dan sekarang. Dalam gramatika Bahasa Arab, pemaknaan ini berbanding lurus dengan maadli dan mudlori.

Kata dan bahasa –karena tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia- tentu saja mengalami perubahan sebagaimana perubahan tata cara manusia dalam mengisi kehidupan ini. Perubahan bahasa ini diakibatkan oleh desakan budaya yang terus merangsak, kemajuan teknologi informasi, dan rasa enak dari subyek ketika kata-kata diucapkan bukan karena layak dan kesesuaiannya dengan tata bahasa. Budaya seperti ini dapat dikatakan sebagai kultur pop.

Bacaan Lainnya

Tiga bulan lalu, kalimat dan ungkapan ‘kid jaman now’ atawa anak jaman sekarang menjadi viral di beberapa media sosial, malah telah menjadi ungkapan dari orang tua di dalam menyebutkan sikap anak-anak mereka yang telah banyak bertolak belakang dengan harapan. Sudah tentu, sebagai orang tua menginginkan anak mereka melakukan apa pun yang terbilang ideal dengan keinginan orang tua tersebut, meskipun tidak melihat keadaan dan lingkungan yang telah jauh berbeda antara dulu dengan sekarang.

Ungkapan seperti: Ah, dasar kid jaman now, susah diberi nasehat dan sukar menerima pepatan orang tua! Sudah menjadi ucapan biasa, malah sering sekali kita melihat ungkapan ini ditulis oleh banyak orang tua di media sosial, terutama facebook.

Padahal, jika dinegasikan, ungkapan atau statis seperti ini sebetulnya menyindir diri orang tua atau penulis itu sendiri. Para orang tua tetap kerasan ber-facebook- ria, kemudian dibahasakan melalui hati seorang anak: Ah, dasar orang tua jaman now, kurang perhatian kepada anak sendiri, masalah anak malahan ditulis di facebook.

Tidak heran, seorang anak menginginkan dirinya menjadi sebuah ponsel karena kedekatan kita dengan gadget itu lebih intens daripada terhadap anak sendiri.

Sangat sederhana cara merasionalkan pola hidup manusia jaman sekarang. Salah satu contohnya dalam persoalan keyakinan: manusia telah banyak melakukan penebangan liar di hutan-hutan, pohon dihabiskan, dibuat menjadi kayu, kemudian kayu-kayu tersebut dijadikan bangunan salah satunya untuk merenovasi tempat ibadah, saat kemarau panjang, manusia kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan di tempat ibadah itu agar hujan dan air segera diturunkan. Padahal telah jelas, kekuarangan air dan tidak teraturnya siklus hujan itu karena adanya penebangan kayu secara liar. Semua disebabkan oleh tangan manusia juga.

Sangat wajar, kekhawatiran orang tua berlebihan dalam mengamati fenoma dan segala hal yang berhubungan dengan jaman now melekat dan memberikan pengaruh signifikan terhadap anak-anak. Hanya saja, karena sebagian besar orang tua tidak dapat menyalahkan jaman akhirnya mereka mengambil jalan pintas, menyalahkan anak mereka sendiri.

Orang tua mengatakan, anak-anak sudah tidak dapat lagi melakukan adaptasi dengan jaman, tidak dapat menegakkan aturan-aturan yang telah digariskan oleh leluhur ketika orang tua sendiri masih harus dipertanyakan sejak kapan mereka telah menjaga dan melestarikan apa-apa yang telah diwariskan dan digariskan oleh leluhur atau karuhun?

Sebagian dari kita juga ada yang mengatakan: hal ini terjadi karena anak-anak sekarang sudah jauh dengan ajaran agama, ketika diri kita sendiri jarang bertanya sudah seberapa dekatkah kita dengan Tuhan?

Anak-anak sudah tentu akan mencontoh dan mencontek kepada guru mereka (orang tua di rumah, guru di sekolah) dan guru yang paling gampang diikuti yaitu lingkungan.

Sedangkan lingkungan sendiri diciptakan bukan oleh siapa-siapa melainkan oleh manusia-manusia juta. Anak-anak atau “kid jaman now” tidak akan banyak mencontoh kepada guru jaman old atau lingkungan masa lalu melainka akan mengikuti lingkungan sekarang yang syarat kemajuan di bidang materil namun menurun secara spiritual.

Anak-anak tidak akan menggunakan intercom yang dihubungan dengan kabel tembaga, mereka akan lebih memilih memanfaatkan medsos dan fasilitas chating. Kenyataan seperti ini disebabkan oleh sikap mencontoh mereka kepada guru jaman now yang lebih menunjukkan persoalan material dari pada semangat spiritual.

Contoh kecil sikap seperti di atas: diri kita sebenarnya sedang hidup dalam penuh rasa haus oleh keinginan, kadang disertai oleh sikap uring-uringan, tentu saja masalah ini memengaruhi rupa, aura, dan citra diri kita, raut wajah akan terlihat kusam dan kusut, tetapi saat diri kita dipotret oleh ponsel cerdas –karena foto diri akan diupload ke medsos- maka raut wajah kita pun dipoles seolah kita sedang bahagia, penuh senyuman, dan menebar pesona.

Artinya, sikap merasa cukup atau qona’ah, tuhya atau butuh aya dalam bahasa masyarakat perkampungan sudah jauh dalam diri kita.

Akhirnya, ketika anak-anak atau “kid jaman now’ diajak agar mengikuti gueu jaman old mereka akan menjawab: Ah, kudet atau kurang update, tidak kekinian, dan orang tua akan disebut kuno. Tidak aneh di jaman now atau sekarang tidak sedikit orang hanya sekadar dapat mengenang kehidupan masa lalu mereka atau pengalaman jaman old melalui cerita atau dengan memposting foto-foto kegiatan mereka di jaman dulu, memotret barang-barang yang pernah mereka gunakan dan miliki seperti walk man, bungkus permen, sepatu yang dapat menyala, meskipun hanya dalam bentuk gambar kemudia diberi keterangan: Anak-anak jaman now tidak akan tahu sama sekali terhadap barang-barang ini. (*)

Pos terkait