Halaman rumah gubernur ini juga ditinggikan. Agar tamannya lebih menonjol. Juga agar tidak tergenang di masa air sungai Kapuas pasang-besar. “Saya tidak tinggal di rumah dinas itu,” ujar Sutamadji. Ia tinggal di rumahnya sendiri.
Sutamadji memang orang asli Pontianak. SMA-nya di Santo Paulus depan es krim itu. Orang tuanya miskin. Ia harus ikut cari rezeki di pagi hari. SMA Santo Paulus masuk sore.
Setelah tahun pertama dinilai ”Pontianak Centris” Sutamadji mulai melangkah ke daerah-daerah. Ia fokus mengurangi jumlah desa tertinggal.
“Tahun ini desa sangat tertinggal sudah teratasi semua,” ujarnya.
Ia mengajak saya ke war-room. Lokasinya di depan ruang tamu. Layar digital selebar dinding gedung berkedip-kedip. Semua data pembangunan berseliweran. Real time. Desa tertinggal pun sudah turun drastis. Dari sekitar 500 menjadi tinggal 80-an.
Tentu saya juga diskusi mengenai pelabuhan baru, jalan menuju ke sana dan soal bauksit (Disway 5 Desember 2022).
Gubernur bisa berperan penting. Termasuk dalam memelihara durian Pontianak. (Dahlan Iskan)





