Covid-19 dan Isu Masyarakat Urban

  • Whatsapp

Oleh: Kang Warsa

Penyebaran coronavirus disease 2019 sudah bukan merupakan hal yang harus dipandang sebelah mata. Data terkini telah mencatat satu juta lebih manusia di dunia dinyatakan terinfeksi dengan hasil tes dinyatakan positif. Lonjakan kenaikan angka tersebut disebutkan oleh beberapa ahli seperti gunung es yang hanya tampak di permukaannya saja. Artinya, kemungkinan besar jumlah orang terpapar Virus Corona dapat saja lebih besar daripada yang tercatat dan dipublikasikan oleh Universitas John Hopkins, Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya

Setiap pemerintah di berbagai negara telah menempuh beragam cara untuk mengantisipasi dan melawan penyebaran Virus Corona. Strategi yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui kebijakan dan penerapan protokol yang rasional, tepat, dan memenuhi standar kesehatan tidak sebatas dikeluarkan dalam bentuk anjuran dan edaran. Peraturan Pemerintah, Kepres, dan Perpu diterbitkan sebagai salah satu tanda bahwa kehadiran dan intervensi pemerintah terhadap penanganan kasus Covid-19 benar-benar begitu jelas.

Beberapa hari setelah kasus positif Covid-19 ditemukan di Indonesia, pemerintah dari pusat hingga daerah langsung mengeluarkan edaran penting, social distancing atau pembatasan sosial, kegiatan belajar dan mengajar di setiap daerah dialihkan dari sekolah ke rumah. Awalnya, Ujian Nasional ditunda pelaksanaannya sampai waktu yang tidak ditentukan, pada akhirnya dihapus sama sekali. Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan atas rekomendasi dan masukan dari berbagai pihak ini merupakan langkah terbaik untuk menghindari jutaan siswa terpapar Virus Corona.

Kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah pusat dan daerah terus berkembang dan bergulir seiring perkembangan isu dan berbagai kemungkinan yang dapat saja terjadi , terutama terhadap skema terburuk penyebaran Virus Corona yang dapat saja menginfeksi ratusan ribu orang menjelang masa puncaknya, pada akhir bulan April. Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan lockdown parsial jika di satu kecamatan hingga tingkat RT terdapat kasus positif Corona. Belajar dan bekerja di rumah di perpanjang sampai permasalahan dan penyebaran Virus Corona benar-benar dinyatakan selesai.

Beberapa cara yang dapat ditempuh oleh masyarakat dan ini sangat dianjurkan karena sesuai dengan standar dan protokol kesehatan antara lain: membiasakan mencuci tangan, melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), gerakan masyarakat sehat (Germas), diam di rumah dan membatasi pergerakan, menjaga jarak dengan orang lain saat berinteraksi sosial, penyemprotan disinfektan terhadap fasilitas umum seperti tempat ibadah, perkantoran, terminal, dan lainnya.

Sikap Masyarakat Urban

Terlepas adanya kebijakan lain dari pemerintah, misalnya di bidang ekonomi, protokol yang mengacu pada standar keseharan tadi memang seharusnya dijalankan oleh masyarakat untuk mencegah penularan coronavirus disease 2019 lebih meluas lagi. Tetapi di samping itu, dalam kondisi pageblug (wabah), rasa khawatir hingga phobia benar-benar dialami oleh mayoritas warga negara terutama oleh masyarakat perkotaan. Sikap kahawatir dan phobia ini telah melahirkan cara-cara baru yang dikeluarkan oleh mereka untuk mengantisipasi penyebaran Virus Corona, terkadang tidak rasional dan bertolak belakang dengan protokol pencegahan Covid-19.

Cara-cara yang kadung telah menyebar dan dilakukan di masyarakat perkotaan salah satunya dengan menyemprotkan disinfektan pada seluruh tubuh. Cara ini memang dapat saja membunuh virus, tetapi para ahli kesehatan sama sekali tidak merekomendasikannya. Penyemprotan disinfektan karena mengandung zat berbahaya secara biologis justru dapat melahirkan masalah baru jika disinfektan mengenai selaput lendir, mata, atau pori-pori kulit. Sayangnya, masyarakat urban telah meyakini bahwa cara ini dipandang sangat efektif dapat membunuh Virus Corona sebelum memasuki tubuh manusia.

Kasus ini ditemukan di India saat pemerintah negara tersebut menerapkan lockdown nasional, ratusan orang dikumpulkan di pinggir jalan selanjutnya disemprot dengan cairan disinfektan menggunakan alat pemadam kebakaran dengan tekanan sedang. Video yang tersebar luas di media sosial dan YouTube telah mendapatkan beragam komentar, mayoritas sangat menyayangkan cara seperti ini. Salah satu komentar menyebutkan: apakah yang sedang coba kamu bunuh, virus atau manusianya?

Di masyarakat juga telah tersebar salah satu upaya pencegahan saat tubuh terinfeksi Virus Corona yaitu dengan meperbanyak minum air bening, 15 menit sekali. Penelitian mutakhir menyebutkan, bahwa belum tentu cara seperti ini dapat membunuh virus dan menjamin seseorang yang telah terpapar Corona bisa sempuh. Coronavirus disease 2019 merupakan jenis Virus SARS baru, peneliatian tentangnya masih terus dilakukan. Bahkan pembuatan vaksinnya pun masih terus diujicobakan kepada hewan.

Beberapa hari ini tersebar berita, masyarakat urban di Paris menerima pesan berantai berisi salah satu cara ampuh membunuh Virus Corona yaitu dengan mengonsumsi kokain. Terhadap pesan berantai ini, otoritas setempat harus mengeluarkan maklumat bahwa mengonsumsi kokain dengan alasan pencegahan penyebaran dan penginfeksian Virus Corona merupakan sebuah kekonyolan dan ini jelas sangat berbahaya jika dilakukan.

Ada lagi cara yang sangat membahayakan kehidupan manusia itu sendiri, isu paling berbahaya selama pandemik berlangsung yaitu: Virus Corona dapat dilawan dengan cara meminum pemutih pakaian. Kasus baru sebanyak 56 orang warga negara Ghana diberitakan setelah mereka mengonsumsi Dettol cair untuk membersihkan diri atau tubuh dari Virus Corona. Akhirnya, bukan lagi Virus Corona yang dipandang dapat mematikan manusia, prilaku dan cara-cara salah yang ditempuh juga bahkan dapat lebih mematikan manusia sendiri, tanpa harus menunggu masa inkubasi dan perawatan di pusat kesehatan.

Berjemur dengan intensitas sedang dan proporsional di waktu tertentu sangat dianjurkan untuk menyerap vitamin D dari sinar matahari. Namun harus diketahui, tidak semua sinar matahari terutama UV itu bermanfaat bagi tubuh. UV tertentu jika diserap tubuh secara berlebihan justru menjadi salah satu pemicu kanker kulit.

Cara sederhana namun diyakini terbaik dalam mencegah penyebaran Virus Corona yaitu dengan mengindahkan anjuran dari pemerintah sesusai dengan protokol kesehatan. Memang sangat dilematis, terutama jika kebijakan diam di rumah dan pembatasan sosial tidak disertai oleh kebijakan lain yang tepat, terutama di bidang perekonomian. Masyarakat urban terutama kalangan menengah ke bawah telah memiliki formula: jika diam di rumah berarti tidak bekerja, tidak menghasilkan uang. Lantas muncul pertanyaan: saya harus makan apa?

Meskipun sampai sekarang belum terjadi kasus kelaparan akibat diam di rumah, perhatian pemerintah terhadap kondisi dilematis tersebut sangat dinantikan oleh masyarakat melalui kebijakan dan program yang berkeadilan, tidak menimbulkan permasalahan sosial baru yang dapat meningkatkan eskalasi interaksi sosial lebih tinggi dengan alasan menentang kebijakan yang salah sasaran. Dalam hal ini, orang-orang yang sering mengatakan: kami tidak takut Corona, kami hanya takut kepada Allah pun tetap akan merasa takut jika mereka tidak kebagian jatah dari pemerintah. Setiap manusia memang masih takut menghadapi kematian, bencana, wabah, dan kekurangan sumber makanan, begitu kan?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *