Ekspedisi Gerakan Anak Negeri ke Kasepuhan Ciptagelar (2)

CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu
CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu

Oleh Hazairin Sitepu

Memegang teguh prinsip-prinsip dan tradisi adat leluhur Sunda yang diwariskan turun-temurun. Tetapi sepenuh jiwa dan raga menerima kehidupan modern sebagai bagian penting kehidupan masyarakat adat yang tradisi itu.

Bacaan Lainnya

Kasepuhan Ciptagelar memang sangat hebat. Hebat sekali. Perkampungan adat ini berada jauh di Gunung Halimun sana. Di Sukabumi, Jawa Barat. Tetapi masyarakatnya makmur sentosa.

Bila ke Baduy atau ke Tana Toa, Anda tidak akan menemukan satu pun masyarakat adatnya mengenakan alas kaki. Sepatu atau sandal sekali pun.

Itu aturan adat yang berlaku untuk semua masyarakat adatnya. Siapa pun yang melanggar aturan itu, diberikan sanksi.

Adat di Kasepuhan Ciptagelar tidak mengenal aturan itu. Semua masyarakat adat di situ boleh mengenakan sandal, juga sepatu. Termasuk sepatu bot ketika ke kebun, ke sawah atau bekerja di luar rumah.

Kalau banyak sepeda motor dan mobil terlihat berlalu-lalang di wilayah adat, itu karena Kasepuhan Ciptagelar membolehkan. Tidak hanya menggunakan atau mengendarai, tetapi juga boleh memiliki. Saya melihat sepeda motor dan mobil terparkir di halaman beberapa rumah.

Saya bertanya ke Abah Ugi, pemimpin adat tertinggi di Kasepuhan Ciptagelar, apakah masyarakat adat boleh menggunakan kendaraan bermotor. “Boleh. Juga boleh memiliki. Tidak ada larangan,” jawabnya. Abah Ugi sendiri memang memiliki mobil pribadi. Lebih dari satu.

Rumah-rumah adat di Ciptagelar hampir sama dan sebangun dengan rumah-rumah adat di Baduy dan Tana Toa. Semua berbentuk rumah panggung, bertiang kayu, beratap rumbia dan berdinding anyaman bambu.

Jika Baduy dan Tana Toa melarang menggunakan apa lagi memiliki barang-barang elektronik, itu samasekali tidak di Ciptagelar. Dalam banyak rumah di Ciptagelar ada televisi, kulkas. Juga ada antena parabola tertancap di halaman beberapa rumah.

Saya nonton final sepakbola piala dunia antara Argentina melawan Prancis justru di rumah Abah Ugi di Gelaralam. Di pusat pemerintahan adat itu bahkan ada nonton bareng di halaman salah satu rumah, menggunakan proyektor. Abah Ugi itu pemimpin adat tertinggi Kasepuhan Ciptagelar.

Ibu-ibu, yang di rumahnya ada televisi, bisa nonton sinetron kapan saja. Anak-anak bisa nonton video-video TikTok atau Youtube di mana saja dalam wilayah adat Ciptagelar.

Fasilitas untuk itu memang tersedia di seluruh wilayah kasepuhan. Ada listrik. Ada internet. Banyak di antara masyarakat memiliki handphone.

Rafa, Trian, Fajar dan Agus. Empat anak ini berumur kira-kira sembilan tahun. Saya menemui mereka di satu sudut Balai Pertemuan Adat Ciptagelar. Sedang asyik nonton video-video TikTok. Semua mereka memiliki handphone.

Berkumpul di sudut itu karena mereka bisa nonton video sambil menge-charge handphone. Menggunakan internet berbayar melalui jaringan WiFi. Harganya Rp10ribu selama 24 jam.

Rafa, Trian, Fajar, Agus dan anak-anak Ciptagelar lainnya boleh bersekolah. Setinggi apa pun, kalau mampu. Tidak ada larangan. “Silakan,” kata Abah Ugi.

Wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar sangat luas. Meliputi 568 kampung dengan penduduk kurang-lebih 30 ribu jiwa. Ada sekolah SD. Ada pula SMP. “Anak-anak yang ingin lanjut ke SMA dipersilakan ke kota,” Abah Ugi mengatakan. Kota yang dimaksud Abah Ugi adalah wilayah di luar kasepuhan.

Lalu kasepuhan memiliki pembangkit listrik sendiri. Memiliki stasiun televisi sendiri. Memiliki stasiun radio sendiri.
Kehidupan modern memang telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar.
Tentang pembangkit listrik, televisi dan radio, ikuti di bagian ketiga tulisan ini. (*)

Pos terkait