Kelima, Koalisi Perubahan yang tinggal dua partai itu: Nasdem (11 kursi) dan PKB (10 kursi), segera ditarik pula ke KIM. Karena ada kekhawatiran dari pihak KIM dua partai itu berkoalisi dengan PDIP yang memiliki 15 kursi di DPRD Jakarta. Maka, terjadilah apa yang disebut KIM-Plus.
Jika analisis ini memiliki akurasi dan itu benar terjadi, maka Koalisi Perubahan di Jakarta benar-benar bubar. Anies tidak bisa maju sebagai calon gubernur. PDIP pun tidak bisa mencalonkan karena jumlah kursinya tidak memenuhi syarat threshold pencalonan.
Jika Koalisi Perubahan bubar dan PDIP kehilangan peluang mencalonkan, maka akan terjadi calon tunggal. Hanya ada satu calon saja. Lawannya adalah KOTAK KOSONG.
Keenam, lalu siapa calon wakil Emil? Kemungkinan dari partai besar yang dibajak itu: PKS. Dan PKS pun sudah menyiapkan tiga kader terbaiknya: Suswono (mantan menteri pertanian), Ahmad Syaihku (sekarang presiden PKS) dan Mohammad Sohibul Iman (wakil ketua Majelis Syuro PKS).
Jadi, di Jakarta Emil berpasangan dengan PKS (Emil-PKS). Sedangkan di Jawa Barat Dedi berpasangan dengan calon Golkar (Dedi-Golkar). Ini jika skenario yang menjadi sorotan analisis ini berjalan.
Ataukah manuver itu justru memunculkan semacam second hop kepada Anies. Sehingga bisa ‘Yura’ dengan koalisi baru? Ini hanya analisis.
Tetapi sesungguhnya ‘manuver ekstrem’ ini tidak sekadar untuk memenangkan Pilgub Jakarta, lebih dari itu, untuk kepentingan politik jangka panjang: pemilihan presiden 2029.
Tentang mengapa PKS Masuk KIM, akan dianalisis secara luas pada bagian kedua tulisan ini. (**)






