“Halo, Dea?”
“Ya Bu Mutia?”
“Beasiswa S2 kamu kan ada kewajiban asistensi, kamu isi kelas Topik Pilihan Farmasi saya Jumat besok ya, kerjaan saya di sini belum selesai.”
“Siap Bu. Untuk bimbingan tesis Senin Ibu ada?”
“Belum tahu, kontak saya aja nanti.”
“Ya Bu.”
***
“Ini kelas TPF kita yang ngisi emang Kak Dea terus? Gue jarang masuk, tapi sekalinya masuk kok Kak Dea lagi?”
“Gak tahu nih, Bu Mutia cuma masuk pas pengenalan silabus aja. Sisanya Kak Dea.”
“Oh gitu, sibuk kayanya, jadi anggap aja dosen kita Bu Dea ya, asistennya Kak Mutia.”
“Iya, wkwkwk.”
***
“Untuk UAS TPF kalian, buat makalah ya. Ini tugas individu ya, bukan kelompok. Ini formatnya.”
“Baik Bu Mutia. Untuk penilaiannya gimana Bu?”
“Kalau kalian sekedar nulis sampai selesai, nilainya C. Kalau berhasil sampai terbit di SINTA 6, C+. Terbit di SINTA 5, B-. SINTA 4, B. SINTA 3, B+, SINTA 2, A-. Yang paling tinggi SINTA 1, nilainya A.”
“Berarti harus terbit di jurnal nasional Bu?”
“Iya, cantumkan saja nama saya jadi corresponding author di belakang nama kalian. Biasanya reviewer-nya udah pada tahu nama saya, kemungkinan diterimanya besar.”
“Baik Bu.”
***
“Enak ya kuliah Bu Mutia.”
“Iya, tugasnya cuma 1 makalah doang, sisanya diceramahin asisten.”
“Recommended lah buat kuliah pilihan.”
“Pantes aja isinya 50-an mahasiswa terus, penuh.”
***
“Bu Mutia, ini ada surat dari pusat.”
“Apa isinya?”
“Penghargaan jurnal nasional terbanyak sekampus tahun ini.”
“Oh, mantab. Lumayan juga dua semester ngajar TPF.”
“Apa hubungannya Bu?”
“Ada 2 semester kali 50 mahasiswa bikin makalah jurnal nasional, semua nyantumin nama saya.”
“…”
“Pastikan semester depan saya ngajar TPF lagi.”
***
“Halo, Bu Mutia, ini Dea.”
“Kenapa Dea?”
“Ini honor asisten gak masuk dari jadwal yang seharusnya Bu.”
“Oh, iya, biasanya memang telat 3 bulan.”
“Honor asisten yang cuma 500 ribu per semester itu selalu telat Bu? Walaupun dari 15 pertemuan, 13 di antaranya saya yang ngajar?”
“Iya, memang begitu. Dari jaman saya mahasiswa dulu juga gitu.”
***
“Erna, lu apa kabar?”
“Widih, tumben kontak gue Mut. Gimana nih?”
“Lu masih jadi dosen di Malaysia?”
“Masih lah, ogah gue balik, apalagi denger cerita elu. Di sini segalanya difasilitasi, mau APC jurnal puluhan juta juga dibayarin kampus.”
“Wih, coba kampus gue kaya gitu ya.”
“Lu bisa catut nama gue aja jadi co-author, entar gue reimburse-in ke kampus sini.”
“Wah menarik, ya udah, eksekusi ya.”
***
“Puput, pembimbing lu dulu Bu Mutia bukan?”
“Iya, kenapa gitu?”
“Ini kok skripsi gue tiba-tiba terbit jadi jurnal internasional ya? Cuma diterjemahin ke bahasa Inggris. Datanya sama persis.”
“Bagus dong, masalahnya apa?”
“Nama pertamanya Bu Mutia. Gue jadi nama kedua.”
“Lah, kan emang gitu, gue dulu juga gitu.”
“Temen kita yang lain gimana?”
“Si Fani bimbingannya Prof. Harjo juga gitu dulu.”
“Oh, berarti normal ya.”
“Kayanya sih gitu. Semua orang juga gitu.”
“Iya sih, toh kita udah lulus ini, gak ngaruh juga.”
***
“Selamat Bu Mutia, dapet penghargaan lagi, jurnal internasional terbanyak.”
“Makasih Prof. Harjo.”
“Kok bisa 12 jurnal internasional dalam setahun? Gila, fundingnya dari mana?”
“Saya bikin 4 systematic literature review, 4 survey paper, sama 3 review konsep Prof. Kan sama aja mau paper riset atau review, yang kampus tahu mah sama-sama Q1. Yang paper riset cuma 1, dari bimbingan saya, itu juga semua mahasiswanya yang danain.”
“Oh gitu, modal baca sama nulis doang ya.”
“Iya, gak perlu keluar duit ratusan juta buat mencit, reagen, bahan kimia, sama alat.”
“Mantab, APC jurnalnya dari mana?”
“Ada co-author saya di Malaysia, dia bisa claim reimburse buat APC sampai ratusan juta, tinggal catut namanya.”
“Oh, mantab. Saya dulu juga gitu.”
***
“Halo, Mutia?”
“Oh Bu Dewi, ada apa ya?”
“Ini kan awal tahun, waktunya ngajuin proposal hibah riset lagi, minat pinjam nama PT. Riset Luar Biasa?”
“Oh, nggak Bu. Saya udah punya sendiri Bu, punya si Hamid anak saya. Jadi saya gak perlu bayar fee peminjaman.”
“Oh gitu, kalau perlu lagi kontak saya ya.”
“Siap Bu.”
***
“Selamat Prof. Mutia udah pengukuhan guru besar.”
“Makasih Mbak Keuangan Fakultas. Ini hasil dari publikasi jurnal nasional dan internasional rutin mbak. Cuma mau cek, ini Take Home Pay-nya memang bener segini?”
“Iya Bu.”
“Besar sekali, beda banget sama saya beberapa tahun lalu.”
“Iya Bu, memang aturan penggajiannya begitu.”
“Jadi antara guru besar dan dosen muda itu selisihnya kaya langit dan bumi?”
“Iya Bu, memang begitu aturan kampus kita.”
***
“Halo, Prof. Mutia, Pak Dekan kan mau pensiun, gantikan beliau ya semester depan. Cuma Prof yang memenuhi syarat di fakultas sana.”
“Oh baik Bu Rektor.”
“Nanti akan ada tunjangan struktural lagi di atas tunjangan guru besar.”
“Wah, terima kasih Bu. Memang beda sekali ya Bu zaman dosen muda sama sekarang.”
“Iya, saya dulu juga gitu.”
***
“Mbak Admin, bisa panggil Bu Lala?”
“Ada keperluan apa ya Bu Dekan?”
“Ada yang mau saya obrolkan.”
“Jam berapa Bu?”
“Jam 1, habis makan siang.”
***
“Ada apa Bu Dekan?”
“Bu Lala kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?”
“Iya Bu.”
“Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?”
“Iya Bu.”
“Biar karir Bu Lala lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3.”
“Wah, kalau nggak gimana Bu? Saya lagi banyak pengeluaran.”
“Nanti karir Bu Lala stuck di situ.”
“Oh gitu, baik Bu.” (Dahlan Iskan)




