CATATAN DAHLAN ISKAN

Tempe Setelah Belajar Dorayaki

×

Tempe Setelah Belajar Dorayaki

Sebarkan artikel ini

Nikah tanpa ada biaya. Sedikit pun. Hanya sebulan Rustono tinggal di rumah mertua. Lalu mengontrak rumah. Saat empat hari di rumah mertua, Rustono pinjam sepeda adik iparnya. Ia keliling kota Kyoto. Lihat-lihat. Ada peluang bisnis apa.

Kesimpulannya: banyak makanan Jepang yang basisnya kedelai. Berarti lidah Jepang akan bisa menerima tempe. Tempe! Membuat tempe! Bisnis tempe! Itulah tekadnya. Bulat. Tapi Rustono belum bisa membuatnya. Ia suka tempe. Waktu di desa. Tapi tidak pernah melihat orang membuat tempe.

Bank bjb Tandamata

Dalam hal ini saya bisa bangga: bisa bikin tempe. Dulu. Suka membantu ibu membuat tempe. Rustono telpon ibunya. Minta diajari cara bikin tempe. Juga minta dikirimi ragi. Bahan kimia alami. Yang bisa membuat kedelai menjadi tempe.

Hambatannya jelas: tidak ada daun. Tapi di Jawa pun tempe sudah bisa dibuat dengan bungkus plastik. Ia coba bikin tempe yang pertama. Ia beli kedelai 2 Kg. Ia rebus. Ia injak-injak. Seperti di desa. Untuk menghilangkan kulit arinya. Dua hari kemudian ia lihat hasilnya: gagal total.

Tak terhitung petunjuk ibunya. Lewat telepon. Tapi tetap saja gagal. Ibunya lantas ingat tetangganya. Pak Sidik. Yang penghidupannya membuat tempe. ” Pak Sidik itu kok menyelimuti tempenya dengan kain ya?,” ujar sang ibu. Sambil memberikan nomor telepon Pak Sidik.

”Apa fungsi kain penutup itu?,” tanya Rustono pada ahlinya itu.”Agar bakal tempenya dalam suhu yang hangat,” jawab sang ahli.Pantesan, kata Rustono dalam hati, ini kan bulan Oktober. Udara mulai dingin. Mana bisa hangat. Apalagi bulan-bulan berikutnya lebih dingin. Lalu bersalju. Di kampungnya itu bisa minus 15 derajat. Di bulan Januari. Rustono pun berangkat ke toko. Beli selimut listrik. Untuk menyelimuti tempenya.