Presiden Donald Trump sudah sepakat dengan Presiden Xi Jinping: gencatan senjata dulu selama 90 hari. Sejak mereka berdua bertemu di Argentina. Tanggal 29 Nopember lalu. Berarti, Senin kemarin itu, saat perundingan pertama dimulai itu, sudah sangat telat. Sudah kehilangan waktu 36 hari.
Tentu tidak bisa dikatakan kehilangan. Perundingan pertama itu memerlukan persiapan matang. Point-pointnya harus dibuat. Agar tidak terjerumus ke debat kusir. Tanggal 1 Maret depan semua itu harus sudah beres. Kalau tidak, yaaah, perang dagang meledak tak terkendali.
Kehadiran Liu He itu dianggap positif. Bisa diartikan Tiongkok ingin perundingan cepat selesai. Apalagi Tiongkok sudah setuju segera membeli kedelai Amerika. Berapa pun jumlahnya. Tiongkok juga sudah setuju menurunkan tarip impor mobil Amerika.
Bahkan Tesla sudah bikin kejutan. Diijinkan menguasai tanah lebih 100 ha. Di pinggiran Shanghai. Buat pabrik mobil listriknya. Yang model 3. Yang harganya murah. Yang 100 persen milik Tesla. Pabrik Tesla di Amerika hanya akan memproduksi mobil listrik yang mahal.
Elon Musk, bos Tesla, sudah di Shanghai. Di hari yang sama dengan dimulainya perundingan. Elon Musk punya acara sendiri: meresmikan dimulainya pabrik Tesla di Shanghai. Maka silakan terkejut: pabrik itu sudah bisa memproduksi Tesla akhir tahun ini. Akhir 2019. Silakan terkejut lagi: Tesla akan memproduksi mobil listrik 500.000 pertahun.
Perundingan dagang kali ini dikelilingi begitu banyak kejutan. Donald Trump juga bikin kejutan. Ia sangat optimistis. “Ekonomi mereka kini tidak baik,” ujar Trump. Berkali-kali. Merasa Amerika segera menang.
Perundingan itu dibagi dalam grup-grup. Ada kelompok tarif dan non-tarif. Ada kelompok hak cipta. Lalu ada tim teknologi tinggi. Di dalam negeri Trump sendiri tidak bisa menang. Pemerintahnya tutup sudah lebih dua minggu. Tidak ada anggaran. Kongres tidak menyetujui permintaannya: dana sekitar Rp 70 triliun. Untuk membangun tembok perbatasannya dengan Meksiko.



