CATATAN DAHLAN ISKAN

Defisit BPS

×

Defisit BPS

Sebarkan artikel ini

Impor BBM-nya naik terus. Produksi minyaknya mandeg. Atau turun. Itu pun belum cukup untuk menganalisis. Yang bisa dipakai untuk mengambil langkah kebijakan. Harus ada angka sangat mendalam. Misalnya, yang naik di pemakaian BBM itu jenis apa, di mana, naiknya berapa, kenapa.

Yang produksi tidak bisa naik itu mengapa? Apakah waktu empat tahun memang belum cukup. Atau sistem baru yang diperkenalkan pemerintah tidak bisa diterima investor. Yakni sistem gross-split itu. Yang tanpa cost recovery itu. Atau jangan-jangan sistem gross split sudah bisa diterima investor. Hanya investornya yang belum mau memulai.

Bank bjb Tandamata

Semua harus diteliti. Dibahas. Dianalisa. Dirumuskan usulan kebijakannya. Ternyata terlalu banyak pekerjaan di balik angka BPS yang baru diumumkan itu. Waktu tidak cukup. Padahal kita tidak ingin terperosok di lubang yang sama. Tapi siapa yang harus mengerjakan.

Baiklah. Saya punya angka lain. Dari dunia lain. Agar kita tidak terjebak pada pesimistis. Di bawah ini akan saya sajikan angka terbaru. Yang juga baru dikeluarkan kemarin. Agar dalam situasi apa pun kita masih bisa berbuat. Kalau mau. Inilah angka pendorong optimistis kita itu: Tahun 2018 surplus neraca perdagangan Tiongkok terhadap Amerika Serikat naik drastis: menjadi 323 miliar dolar.

Hah? Naik? Drastis? Di tengah perang dagang? Iya. Naiknya itu 17 persen. Dibanding tahun lalu. Orang hanya bisa pusing: di tengah hebatnya perang dagang kok ya masih surplus. Dasar Tiongkok.

 

(Dahlan Iskan)