Oleh: Kang Warsa
Komunitas-komunitas yang ada di Kota Sukabumi sejak masa pertumbuhan hingga perkembangannya sekarang ini telah mulai menunjukkan eksistensi dan kiprahnya terhadap –salah satunya- penguatan aspek kebudayaan kota. Pada tahun 2014, salah satu lembaga yang menampung seniman, budayawan, pecinta budaya, dan komunitas-komunitas mulai didirikan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, dalam hal ini Bidang Kebudayaan menginisiasi berdirinya Dewan Kesenian Kota. Meskipun tampak independen, tetapi lembaga kesenian ini tetap harus dijadikan pilot project Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu dinas penyokong pertumbuhan kebudayaan kota selain Dinas Pariwisata.
Pada sisi lain, komunitas-komunitas pun semakin tumbuh dengan berbagai varian dan cakupan garapan. Museum Kipaharé, Yayasan Dapuran Kipaharé, Genpi, dan berbagai komunitas lainnya telah mengambil lahan garapannya masing-masing.
Beberapa minggu lalu, Yayasan Dapuran Kipaharé telah menyelenggarakan acara “Sukabumi Tempo Doeloe”. Acara ini dapat dikatakan dapat menarik perhatian masyarakat Sukabumi. Beberapa komunitas kesejarahan dari kota lain juga tampak urun rembuk dalam acara tersebut.
Kegiatan lainnya diselenggarakan oleh Museum Kipaharé, sebuah acara dengan tajuk utama kasundaan: Ngukuluan Sanghiyang. Kegiatan di bantaran Sungai Cimandiri, Cipeujeuh ini digagas oleh Museum Kipahare sebagai aplikasi konsep patanjala dalam tradisi Sunda, bahwa kehidupan masyarakat Sunda Buhun selalu memerhatikan salah satu aspek paling penting dalam kehidupan yaitu air.
Dapat ditaksir, jumlah pengunjung yang datang menyaksikan acara ini di atas seribu orang. Dan bagi saya sebagai seorang manusia Sunda, pagelaran kegiatan dengan tajuk utama kasundaan memang sangat penting diselenggarakan baik oleh tiap komunitas apalagi oleh pemerintah.
Dua bulan lalu, komunitas Genpi (Generasi Pesona Indonesia) Sukabumi merayakan hari jadi satu tahun Pasar Digital Cikundul. Pasar Digital Cikundul digagas oleh dua komunitas yaitu Genpi dan Kompepar memiliki tujuan menyinergikan antara obyek wisata pemandian air panas Cikundul dengan para pedagang setempat.
Pasar Digital Cikundul merupakan tempat berkumpulnya generasi milenial dengan apa yang disebut penganan tradisional. Dalam satu minggu selama sehari –tepatnya di hari minggu– generasi milenial dapat menemukan kembali apa yang telah menjadi kenangan dalam masyarakat Sunda. Dapat dikatakan, jenis pasar ini merupakan pintu gerbang masa kini untuk melintasi masa lalu.
Beberapa kegiatan di atas memang tidak luput dari kekurangan namun paling tidak dengan adanya berbagai kegiatan di bidang kebudayaan ini dapat menjadi jendela masuk bagi setiap komunitas di Sukabumi dalam mengaplikasikan tujuan utama mereka membentuk komunitas.
Dengan skala lebih besar, kegiatan-kegiatan di atas jika diagendakan secara berkala dapat membantu pemerintah Kota Sukabumi dalam menemukan kembali marwah kotanya, sebuah kota yang dibangun di atas landasan kebudayaan dan jati dirinya sendiri.
Budaya dan Kenangan
Hampir setiap bidang kehidupan manusia termasuk di dalamnya kebudayaan merupakan sebuah kenangan. Orang Sunda berumur di atas 60 tahun akan menghela nafas saat telinga mereka mendengar “térétét” suara terompet. Gelombang kosmik masa lalu tiba-tiba tersambung kembali dengan kehidupan sekarang. Orang tua ini akan mempersilahkan dirinya larut kembali pada kenangan, sebuah kehidupan yang pernah dialaminya empat sampai lima dekade ke belakang.
Harus diakui, setiap orang memiliki kenangan dengan budayanya sendiri. Maka sangat masuk akal di era Revolusi Industri 4.0 ini banyak komunitas atau paguyuban mencoba mengembalikan kembali kenangan budaya melalui penyelenggaraan atau pagelaran kearifan lokal. Pengembalian kenangan untuk merawat masa lalu ini harus dilakukan secara telaten bahkan cenderung memerlukan pemikiran dan potensi lainnya; moril dan materil.
Lantas apa sebetulnya yang harus kita kenang terhadap kebudayaan yang kita miliki? Setiap kebudayaan memang memiliki masa pasang surut, kejayaan dan kejatuhannya. Hal ini disebabkan oleh sejauh mana budaya ini dipopulerkan oleh kelompok masyarakat. Kendatipun demikian, pasang surutnya hanya sebatas pada tampilan, gaya, atau style-nya saja, pasang surut tidak berlaku dalam waktu dekat pada unsur-unsur kebudayaan azali.
Sebagai contoh apa yang terjadi pada budaya popular pada bidang pakaian (fashion), orang-orang milenial akan dianggap orang gila saat mereka kembali ke tahun 60-an, pakaian yang digunakannya kaos slim-fit, celana ketat, dan pernak-pernik lainnya. Begitu juga sebaliknya, kita akan dianggap aneh saat pergi ke mall di perkotaan memakai celana cutbray a la tahun 70-an, memakai kemeja dihiasi rumbe-rumbe mirip mendiang Elvis Presley.
Maka, budaya yang berkembang di masa lalu tetap hanya merupakan sepenggal kenangan, milik manusia yang pernah hidup di masanya. Proses pengembalian kembali kenangan dan ingatan masa lalu dilakukan oleh orang-orang milenial dimaksudkan untuk mempertahankan ingatan tentang budaya yang pernah berkembang dalam suatu masyarakat.
Memang tidak boleh disebut jelek, mengingat bahwa kebudayaan di masa lalu memang telah mengalami masa kejayaan dan pernah menjadi salah satu penyokong kehidupan masyarakat di waktu itu. Tetapi untuk mengembalikan kembali hakikat dan format kebudayaan yang pernah berkembang di masa lalu itu tidak semudah mengembalikan kembali kenangan budaya itu. Satu kebiasaan akan tampil sebagai sebuah kebudayaan jika dilakukan oleh sekelompok orang dalam skala besar, adanya keberlangsungan, berlanjut, dan tidak tampil dalam seremonial semata.
Tidak hanya di Sukabumi, di beberapa daerah di Jawa Barat, penyelenggaraan acara pengembalian kenangan budaya sangat gencar dilakukan selama satu dasawarsa ini. Lembaga-lembaga pendidikan menampilkan “kaulinan barudak” setiap satu tahun sekali di acara kenaikan kelas pada panggung pementasan.
Bahkan, bentuk kebudayaan seperti ini diperlombakan dengan maksud agar kenangan budaya tetap terawat dan dapat diawetkan. Anak-anak milenial –tentu saja– hanya mengenal bentuk budaya ini dalam panggung pentas tidak dalam ampithater raksasa kehidupan.
Budaya Popular Tapi Sesaat
Sifat kebudayaan yang cair dan labil ini menjadi alasan mudahnya antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya dapat saling silang dan bercampur baik secara akomodasi, asimilasi, hingga infiltrasi. Hal ini menunjukkan betapa mudahnya sebuah budaya dipengaruhi oleh tren dan popularitas.
Sebagai contoh, akhir-akhir ini muncul penggunaan cadar oleh sebagian kecil muslimah di Indonesia. Pakaian dalam berbagai genre dan modelnya tetap dikategorikan sebagai budaya, karena Tuhan tidak pernah menciptakan pakaian. Namun karena semakin popular, maka pemakaian cadar ini menjadi hal yang biasa dilakukan oleh para muslimah di Indonesia.
Arus pemikiran lain menyebutkan, pemakaian cadar merupakan budaya Timur Tengah yang pernah dikembangkan oleh komunitas Yahudi Haredi. Pemakaian cadar oleh komunitas ini sebagai identitas kelompok, ciri wanita terhormat, dan untuk menjaga perempuan dari sikap usil kaum lelaki.
Di Israel, kelompok ini disebut sebagai Yahudi Ultra Ortodoks, penganut radikal ajaran Yahudi, cenderung berlawanan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah Zionis, maka stigma fundamentalis dan radikalis disematkan kepada kelompok ini oleh pemerintah.
Stigmatisasi ini berlangsung secara membabi-buta, dialamatkan kepada komunitas atau penganut agama apa pun yang mengenakan simbolisasi keagamaan dalam kebudayaan. Faktanya memang demikian, meskipun cadar hanya merupakan fashion, namun komunitas-komunitas di dunia baik Islam maupun Yahudi telah menjadikan pakaian ini sebagai jenis pakaian eksklusif, hanya digunakan oleh kelompok tertentu.
Penggunaan cadar ini tetap dikategorikan sebagai budaya, bagi masyarakat Islam merupakan budaya dengan genre pop, meskipun ada yang berpendapat pemakaian cadar merupakan satu kewajiban namun hanya diyakini oleh komunitas tertentu saja.
Jenis budaya seperti ini mudah meledak pada satu waktu namun akan kembali luntur dalam sesaat. Yang sangat disayangkan dalam ingar bingar budaya popular ini adalah adanya upaya pencibiran terhadap budaya azali suatu bangsa.
Kebaya dan samping poléng merupakan produk budaya bangsa namun pada sisi lain seolah sering mendapatkan sitiran dan satiran seolah-olah penggunaan kebaya dan samping poléng ini bertentangan dengan ajaran agama.
Jika merunut pada sejarah lahirnya kebaya, pakaian jenis ini diciptakan oleh Wali Songo untuk menutup tubuh perempuan Nusantara di jamannya. Budaya paling popular yang berkembang di masyarakat Nusantara adalah perempuan hanya mengenakan samping poléng sedangkan dada atau tubuh bagian atas dibiarkan tanpa ditutupi busana.
Tentu saja kondisi antara di Timur Tengah dengan Nusantara ini sangat berbeda secara diametral, meskipun para perempuan Nusantara hingga abah ke 18 menutup diri hanya pada tubuh bagian bawah tidak menimpulkan hal-hal tidak senonoh. Sangat berbeda dengan kondisi di Timur Tengah tempo dulu, perempuan-perempuan dapat diperlakukan sebagai budak belian dan dapat diperlakukan semena-mena dengan tanpa syarat apapun.





