POLITIK

Wakili Anak Muda di Pilkada Kota Sukabumi, Shafarian Ogah Jadi F2

×

Wakili Anak Muda di Pilkada Kota Sukabumi, Shafarian Ogah Jadi F2

Sebarkan artikel ini
Bacalon Wali Kota Sukabumi, Shafarian Shah Zulkarnaen saat diwawancarai.
Bacalon Wali Kota Sukabumi, Shafarian Shah Zulkarnaen saat diwawancarai.

Di sisi lain, dirinya juga tidak menutup kran komunikasi dengan partai politik di luar non parlemen. Pasalnya, kontestasi di tingkatan pusat berbeda dengan di daerah, sehingga jika nanti mendapatkan rekomendasi atau restu dari parpol Kota Sukabumi otomatis akan ada penebalan di tingkat pusat.

Bank bjb Tandamata

Ia juga menegaskan, sudah mantap untuk maju di Pilkada 2024 Kota Sukabumi. Pun sudah dalam perenungan dan proses yang sangat panjang dan sudah dalam proses konsultasi dengan berbagai pihak.

“Salah satunya yaitu dengan mentor-mentor di organisasi, mentor-mentor keluarga, yang pada dasarnya ingin memaksimalkan bagaimana kita harus lebih berbuat banyak untuk Kota Sukabumi. Jadi kalau ditanya serius ya serius,” jelasnya.

Disinggung soal anak muda sedikit kesulitan ketika ingin maju dalam sebuah momen kepemimpinan menjadi tantangan. Shafarian mengaku sangat senang jika banyak yang underestimate atau meremehkan anak muda.

“Saya senang sebetulnya kalau banyak yang underestimate terhadap anak-anak muda ya, karena itu saatnya kita membuktikan, karena sampai sejauh ini orang-orang yang telah berkandidasi di Pilkada, baik itu di Kota Sukabumi maupun dimanapun, biasanya diisi sama generasi tua yang ujungnya menjadi generasi yang pengacau,” bebernya.

“Nah, generasi-generasi tua yang pengacau ini lah yang pada dasarnya kita yang menjadi kompetitor yang jelas posisinya, anak-anak muda ya kalau misalkan di underestimate ya silahkan tidak apa-apa,” sambung Shafarian.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam diskusi politik, hanya saja yang menjadi dasar anak muda hadir bukan hanya sekedar muda, tapi ingin punya kompotensi, punya pengalaman dalam jejak yang mungkin mumpuni juga untuk bagaimana memimpin sebuah kota gitu.

“Kalau kita mau coba compare, generasi tua juga awal untuk berkontestasi di dunia politik mereka juga minim rekam jejak, kalau rekam jejaknya itu birokrat ya, birokrat itu kan bukan satu kualifikasi yang mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin, kan beda. Jadi kiprah untuk menjadi birokrat, kiprah untuk menjadi seorang pemimpin itu menjadi suatu hal yang berbeda gitu,” terangnya.

Dia kembali menegaskan, tidak ingin menjadi F2 atau Wakil Wali Kota Sukabumi. Pasalnya ia meyakini dalam segi pengalaman dan segi pengetahuan memiliki rekam jejak masing masing. Hanya saja bagaimana melakukan pendekatan kepada masyarakat.

“Pada dasarnya mau memilih yang tua sudah berpengalaman ya silahkan-silahkan saja, cuman ya kalau mau meminang untuk F2, ya
nanti dulu gitu kan. Anak muda itu kan penuh keberanian, penuh nyali, tapi keberanian yang terukur, jadi jangan terlalu berani tanpa ada pertimbangan,” pungkasnya. (ris/d).