JAKARTA— Presiden Joko Widodo menilai masyarakat Indonesia mudah tersulut emosionalnya karena tersulut berita bohong atau hoax.
Hal itu terjadi dimana ketika teknologi informasi mencapai puncaknya ketika arus informasi begitu melimpah. Sehingga, masyarakat tidak bisa memikirkan lagi informasi itu benar atau sebaliknya. “Masyarakat pun mulai emosional. Padahal belum tentu informasinya benar.
Masyarakat mudah tertipu oleh berita bohong atau hoax,” ujar Jokowi saat menyampaikan orasi ilmiah di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Senin (11/9).
Jokowi berharap, perguruan tinggi bisa jadi yang terdepan untuk meredam arus informasi yang bersifat hoax. Selain itu, Jokowi pun menyinggung perilaku pemilih sudah berubah.
Media konvensional misalnya, kalah cepat dengan dunia maya. Imbasnya, suasana politik akan cepat berubah.
“Perilaku partai politik, pejabat publik juga berubah. Hukum, regulasi harus siap dan undang-undang harus siap,” katanya.
Jokowi menambahkan, sekarang ada banyak bentuk-bentuk kejahatan yang aturannya tak diketahui.
Ini, menjadi tugas fakultas hukum dan praktik bisnis di perguruan tinggi, karena untuk menangani itu membutuhkan regulasi baru.
“Saya sudah mengeluarkan Perpres tentang pendidikan karakter. Ini penting untuk membentengi anak-anak kita berkaitan dengan kejujuran, integritas, dan persatuan,” tandasnya. (bon)





