UNIVERSITAS NUSA PUTRA

Lima Tahun Nusapala, Inspirasi dari Sabana Cisentor

NUSAPALA –  FIKRI Fahrozi (Gondrong), Galih Putra Munggaran (Ratom) dan M. Rijka Hamdani (Erik Koek) sore itu, berkumpul di warung samping Kampus Nusa Putra, Sukabumi. Ketiganya akan merencanakan sebuah ekspedisi pendakian ke Gunung Argopuro, Jawa Timur pada hari Selasa (15/4/15) silam.

Pendakian kali ini syarat makna, sebabnya ketiganya sudah merasa jenuh dengan situasi penuh intrik dan konflik politik di kalangan mahasiswa waktu itu. Di Sabana Cisentor, Gunung Argopuro rencananya mereka akan merenung mencari inspirasi untuk mensikapi keadaan kampus yang sementara ditinggalkannya.

Sepulang pendakian, seperti telah mendapat “wahyu”, ketiganya kembali berkumpul untuk merumuskan pembentukan sebuah organisasi. Mimpinya waktu itu, membentuk organisasi yang bisa menjadi wadah berkumpulnya berbagai kelompok mahasiswa, demi meredam intrik dan konflik politik antar mahasiswa.

Setahun kemudian, tepatnya 16 April 2016 lahirlah organisasi yang digagas bersama tersebut, sebuah organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) yang mereka beri nama Nusa Putra Pencinta Alam Rimba (Nusapala).

Sepenggal cerita latar belakang pembentukan Nusapala itu diceritakan kembali oleh Fikri Fahrozi, pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Nusapala saat ini. Ditemui di Kampus Universitas Nusa Putra seusai rapat persiapan kegiatan Nusapala belum lama ini, alumni Universitas Nusa Putra ini pun bercerita, ada tiga nama lainnya yang jadi pionir atau pelopor dibalik lahirnya Nusapala.

“Ada Indra Fajar Himawan (Indro) angkatan 2014 dan M. Ilham Wardana Putra (Buluk) angkatan 2014, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), serta Rizki Widi Nugraha (mang Ikiw) angkatan 2014, mahasiswa jurusan Teknik Informatika” terang Fikri.

Kegiatan Diklatsar Nusapala angkatan ke II, Februari 2020.

Setelah lima tahun Nusapala berdiri, sampai saat ini Fikri dan rekan-rekannya masih konsisten dengan tujuan awal dibentuknya Nusapala, yaitu sebagai wadah bagi mahasiswa Universitas Nusa Putra untuk berkegiatan di alam bebas, berkontribusi bagi masyarakat, serta peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Konsistensi itu dibuktikannya melalui proses perkaderan anggota. Prosesnya diawali rekruitmen anggota baru satu kali dalam satu tahun. Meski belum signifikan hasilnya, saat ini Nusapala baru beranggotakan 26 mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Nusa Putra.

Proses seleksinya relatif ketat, hal itu dilakukan, karena Fikri tahu menjadi pencinta alam lebih dari sekedar menyalurkan hobi, tapi ada misi utama yang harus dijalani yaitu peduli pada pelestarian alam. “Mereka akan melewati tes tertulis, tes fisik, dan wawancara,” ujar Fikri.

Bagi yang lulus, kata Fikri akan masuk tahap selanjutnya, yaitu mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) untuk menentukan ujian akhir menjadi anggota muda Nusapala. Tak berhenti disana, setelah menjadi anggota muda mereka akan dibekali dengan pelatihan dasar navigasi darat (Navdar), tali temali, Explorer Sar And Rescue (ESAR), Pertolongan Pertama Pada Gawat Darurat (PPGD) dan survival.

Semua kemampuan itu, lanjut Fikri akan bermanfaat pada pendakian gunung dan jelajah hutan sebagai salah satu kegiatan dan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh tiap anggota Nusapala. “Juga untuk kegiatan lainnya yaitu panjat tebing, telusur gua, dan arung jeram,” ucapnya.

Meski masih muda secara usia, namun Nusapala punya banyak pengalaman, khususnya di pendakian, tercatat beberapa pendakian sudah dilakukan, seperti ke Gunung Argopuro, open trip Gunung Gede Pangrango bersama WNA, open trip Gunung Gede Pangrango dengan Mapala dan Sispala, Pendakian Gunung Semeru, Pendakian Gunung Salak, dan pendakian Gunung Gede Pangrango.

Selain pendakian, Nusapala juga terlibat dalam beberapa aksi kemanusian melalui bakti sosial (baksos) di Garut saat terkena banjir bandang, penanaman pohon di sungai Cimandiri, baksos bencana longsor Cisolok bersama PMI, baksos di Bogor saat terkena banjir bandang.

“Dalam waktu dekat, kami juga punya agenda materi lanjutan Masa Bimbingan (Mabim) untuk anggota muda dan pengembaraan sebagai tahapan agar mereka menjadi anggota tetap Nusapala,” terang Fikri.

Anggota Nusapala saat menjadi relawan penanganan dampak banjir Jabodetabek awal Januari 2020 lalu. Mereka bertugas di daerah Bogor, Jawa Barat.

Fikri mengaku Nusapala tak menemukan banyak kendala berarti selama ini. Karena masalah yang dihadapi hanya seputar komunikasi dan koordinasi antar lembaga dan unit kegiatan mahasiswa di Nusa Putra. Dalam hal administrasi dan jalur birokrasi pun, menurutnya tinggal peningkatan pemahaman dan pembiasaan saja.

Menutup pembicaraan, ketika ditanya kepuasaan apa yang didapat dari kegiatan Nusapala?,

Fikri menjawab dengan penuh keyakinan, bahwa ia dan anggota Nusapala lainnya ingin mengetahui kehebatan Allah SWT yang telah menciptakan alam yang sangat indah beserta isinya ini, kemudian mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam, serta mengetahui keadaan alam dan sekitarnya.

Atas nama Nusapala, Fikri pun ingin mengajak semua pihak untuk selalu mencintai dan merawat kelestarian alam ini, khusunya di daerah Sukabumi.

“Gunakanlah sumber daya alam dengan bijak. Nusapala, Rimba Nusa, Salam Rimba, Lestari, Lestari, Lestari,” pungkasnya dengan salam Nusapala. (veg/adv)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button