UNIVERSITAS NUSA PUTRA

Bagaimana Nanotech Dapat Menggagalkan Barang Palsu

×

Bagaimana Nanotech Dapat Menggagalkan Barang Palsu

Sebarkan artikel ini
Nanotech

SUKABUMI– Apa kejahatan kriminal terbesar di dunia? Narkotika? Berjudi? Perdagangan manusia? Tidak. Kejahatan kriminal terbesar adalah produksi dan perdagangan barang palsu. Kita sendiri mungkin pernah  mengalaminya sekali atau beberapa kali, dengan membeli di e-commerce. Kita membeli barang yang menurut kita  barang tersebut bermerek tetapi mendapatkan barang palsu dengan kualitas lebih rendah.

Ini adalah taktik yang terlalu umum, perusahaan manufaktur dan distributor legal juga dirugikan karenanya  praktik ini. Tetapi bahayanya jauh lebih dalam daripada ditipu saat kita mencari penawaran. Saat membeli obat-obatan, misalnya, kita akan membahayakan kesehatan kita jika kita menerima obat palsu tetapi mereknya sesuai  resep dokter. Untuk orang-orang di negara maju rentan diperlakukan dengan obat palsu atau di bawah standar.

Bank bjb Tandamata

Barang elektronik palsu juga merupakan ancaman, karena dapat mengurangi keandalan sistem yang kritis terhadap  keselamatan dan bahkan dapat membuat barang elektronik konsumen menjadi berbahaya. Ponsel dan rokok  elektrik , misalnya, diketahui meledak di wajah pengguna karena baterai palsu di dalamnya. Tidaklah berlebihan  untuk menyamakan proliferasi barang palsu dengan infeksi sistem ekonomi global. Jadi, tidak heran jika banyak  orang di industri telah lama mencari cara untuk memerangi momok ini.

Strategi tradisional untuk menggagalkan barang palsu adalah dengan menerapkan semacam penanda otentikasi ke  barang asli. Upaya ini termasuk menampilkan pola Universal Product Codes (UPC) dan Quick Response (QR),  dan terkadang penyertaan tag identifikasi frekuensi radio (RFID). Tetapi kode UPC dan QR harus jelas sehingga  dapat diakses untuk pemindaian optik. Hal ini membuat rentan terhadap penghapusan, kloning, dan daur ulang  untuk produk palsu. Tag RFID tidak mudah untuk dikloning, tetapi biasanya membutuhkan antena yang relatif  besar, yang membuatnya sulit untuk memberi label pada item tanpa terlihat dengannya. Dan tergantung pada  perangkat yang digunakan, biasanya harga perangkat terlalu mahal.

Penemu telah menemukan solusi yang berbeda, yang didasarkan pada sistem nanoelektromekanis frekuensi radio  (RF) (NEMS). Seperti tag RFID, perangkat RF NEMS tidak harus terlihat untuk dipindai. Tag RFID tersebut  berukuran kecil dan memiliki sifat konstituen yang membuat tag RFID ini sebagian besar kebal terhadap gangguan  fisik atau kloning. Untuk harganya rata rata hanya beberapa ratus ribu rupiah.

“Tag RFID yang tidak terlihat bisa menjadi senjata ampuh dalam melawan produk palsu, bahkan uang palsu.”,  ungkap Aryo De Wibowo, dosen sekaligus peneliti Teknik Elektro Universitas Nusa Putra dalam perkuliahan  Elektronika. (wdy)