TIM PKM Universitas Muhammadiyah Sukabumi Paparkan dan Jelaskan Pengimplementasian Kurikulum Merdeka

Tim Pengabdi Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Tim Pengabdi Universitas Muhammadiyah Sukabumi

SUKABUMI – Demi memberikan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik, Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum baru yang dirancang untuk memberikan keleluasaan kepada peserta didik, Tim Pengabdi Universitas Muhammadiyah Sukabumi yang menyatakan bahwa masih banyak beberapa sekolah yang belum mengimplementasikan Kurikulum Merdeka ini dikarenakan rendahnya faktor kesiapan dari masing-masing Sekolah.

Hamidah Suryani, M.Pd., sebagai Ketua Tim Pengabdi dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam wawancaranya mengungkapkan masih banyak ditemukan kekeliruan pemahaman terkait implementasi kurikulum merdeka yang mencakup penyusunan kurikulum operasional sekolah, pemanfaatan platform merdeka mengajar (PMM), penyusunan modul ajar berdiferensiasi, serta penyusunan modul projek penguatan profil pelajar pancasila.

Bacaan Lainnya

“Hal ini tentunya menimbulkan rendahnya motivasi untuk mengimplementasikan kurikulum merdeka di satuan pendidikan khususnya Jenjang PAUD dikarenakan tingkat kesiapan satuan pendidikan yang belum optimal yang mana ini berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan HIMPAUDI Kota Sukabumi,” ungkapnya

UMMI yang bekerjasama dengan HIMPAUDI Kota Sukabumi dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi berkontribusi nyata menyelenggarakan Workshop dan Pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka jalur mandiri. Dengan upaya ini membantu mensukseskan Implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam meningkatkan tingkat kesiapan satuan pendidikan jenjang PAUD.

Tim Pengabdi Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Tim Pengabdi Universitas Muhammadiyah Sukabumi

Kegiatan ini meliputi workshop dan pendampingan penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP), Perencanaan Berbasis Data dan Manajemen Anggaran berbasis Arkas, penyusunan modul ajar berdiferensiasi, serta penyusunan modul projek penguatan profil pelajar pancasila bagi Kepala Sekolah dan guru-guru PAUD di 7 Kecamatan, yaitu Kecamatan Baros, Cibeureum, Cikole, Citamiang, Gunungpuyuh, Lembursitu, dan Warudoyong.

Ana Setiani menyatakan dalam wawancaranya, Hasil evaluasi kegiatan ini tergolong efektif dengan pencapaian sebesar 91%. Berdasarkan hasil tugas penyusunan modul ajar yang dikumpulkan, sekitar 75% peserta sudah memahami komponen modul ajar pada kurikulum Merdeka, namun masih kesulitan melakukan asesmen awal dan mendiferensiasikan pembelajaran di perencanaannya.

Kegiatan ini memberikan dampak yang positif bagi para Kepala Sekolah dan Guru. Hal ini dapat dilihat dari beberapa peserta yang menyatakan bahwa kegiatan ini bermanfaat, memberikan pengalaman langsung dalam menyusun Perencanaan Berbasis Data, membuat KOSP, serta menyusun Modul ajar dan modul projek penguatan profil pelajar pancasila, sehingga guru lebih percaya diri dan mau mencoba menerapkan kurikulum merdeka tahun 2024 mendatang.(adv/wdy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *