Gawai membuat prestasi anak di sekolah menurun. Mereka tidak bisa belajar maksimal karena lebih menyukai gawai. Penjelasan guru tidak lebih menarik dari bermain gawai. “Di kelas tidak bisa konsentrasi, gawai sendiri sangat dinamis,” ucapnya.
Menurut dia, tak sedikit anak yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Bila itu dibiarkan, maka ada kecenderungan korban tersebut akan menjadi pelaku. “Seperti api dalam sekam, banyak yang diam,” ujarnya.
Salah satu contoh yang cukup miris adalah salah seorang siswi SD yang sudah mengalami keputihan. Informasi itu didapatkan karena orang tuanya bercerita tentang kondisi anaknya. “Padahal keputihan itu terjadi karena ada hubungan berkali-kali,” ujarnya.
Ada seoarang anak yang melihat orang tuanya berhubungan seksual tanpa sengaja. Pengetahuan itu kemudian diceritakan pada teman-temannya. Bahkan, ada yang dipraktikkan.
“Ada orang tua yang baru menyadari hal itu,” tambah Anita Dewi. Ironis sekali, tim kelas ibu cerdas tak ingin generasi bangsa hancur. Untuk itulah, mereka kerap melakukan sosialisasi ke berbagai sekolah. Melakukan pendampingan pada murid, guru, dan orang tua. Semua dilibatkan karena saling membutuhkan.
(jr/gus/ras/das/JPR)



