Kelas ibu cerdas menghubungkan komunikasi antara siswa, guru, dan wali murid. Sehingga, penyampaian materi tentang kesehatan reproduksi, kekerasan, dan pelecehan seksual bisa diselesaikan bersama. Tak hanya di tingkat sekolah, namun orang tua juga terlibat aktif dalam mengawasi anaknya.
Fenomena kejanggalan pada anak itu hampir merata di setiap sekolah. Penyebabnya beragam, salah satunya karena penggunaan gawai yang berlebihan dan tanpa didampingi oleh orang tua.
Contoh kecil, kata Dewi, dirinya mendapat permintaan dari ketua RT salah satu kampung untuk menyosialisasikan kekerasan seksual. Penyebabnya, ada dua keluarga yang berselisih karena salah satu anaknya mengalami kekerasan seksual.
Ceritanya, dua anak itu sedang bermain dokter-dokteran. Lalu, anak cowok itu memasukkan pensil (maaf) pada kemaluan anak perempuan itu. Akibatnya, kemaluan itu terluka dan menjadi bahan pertengkaran antar dua keluarga.
“Mereka tahu itu dari internet, namun melakukan kekeliruan karena tidak didampingi,” ujar Desi Amalia. Dia menyadari penggunaan gawai bila tidak didampingi bisa menjadi ancaman. Akses pornografi begitu mudah didapatkan. Bahkan, saat bertanya pada siswa yang memegang gawai, beberapa dari mereka sudah mengakses pornografi.
Ada yang dikirim via Whatsapp dan ada yang melihat langsung dari internet. Untuk itulah, dalam setiap kegiatan sosialisasi di sekolah, materi yang disampaikan juga tentang gawai sehat untuk anak. “Siswa sulit konsentrasi karena pemakaian gadget,” ucapnya.



