Meski begitu, Sapuangin selalu berada dalam posisi empat besar terdepan. Melihat kondisi bahan bakar yang masih memadai, Sapuangin tancap pedal gas dalam-dalam. “Di putaran lap terakhir, Sapuangin akhirnya mampu menyalip mobil lawan dan berhasil menempati posisi terdepan,” tuturnya.
Hingga lap 10 berakhir, Sapuangin memimpin melintasi garis finish. Para anggota Tim Sapuangin pun sontak berpelukan dalam tangis haru. Namun, sempat terjadi insiden di balik final race itu. Secara sepihak, panitia tiba-tiba menyatakan ITS baru menyelesaikan sembilan lap. Padahal, terdapat 10 lap yang semestinya harus dilampaui. Alhasil, Sapuangin melorot posisinya hingga ranking 9.
Merasa dicurangi, Tim Sapuangin pun melancarkan protes ke panitia. Dibantu rekan seperjuangan dari Indonesia, yakni UGM dan UNY. “Dalam protes, kami sertakan data dan video yang merekam selama lomba berlangsung,” terang Billy.
Setelah panitia berdiskusi dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang ada, akhirnya saat awarding di akhir acara, trofi Juara I DWC 2018 berhasil dibawa pulang Sapuangin.
General Manager Tim Sapuangin ITS, Rafi Rasyad mengungkapkan rasa bahagianya setelah timnya berhasil menjuarai kompetisi adu cepat mobil hemat energi ini. “Ini adalah pencapaian yang luar biasa,” ujar Rafi penuh haru.
Rafi mengungkapkan terima kasihnya atas dukungan yang diberikan oleh banyak pihak, baik moril maupun materiil. “Kami menyampaikan terima kasih kepada Shell Indonesia atas dukungan penuh untuk Tim Sapuangin ITS hingga mobil kami menjadi mobil tercepat dan hemat energi di dunia,” tambahnya.
(did/JPC)



