Pembangunan karakter, melalui pendidikan yang memperkuat mental spiritual para santri dan santriwati bertujuan agar para santri tidak hanya kuat secara karakter. Namun juga mampu menjunjung tinggi nilai kebhinnekaan dan keberagaman di Indonesia.
Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia, karena sesungguhnya Alquran juga mengajarkan tentang keberagaman melalui perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, dan perbedaan budaya.
“Alquran tidak hanya mengajarkan kita untuk taat kepada Allah SWT, tetapi juga mengajarkan kita untuk menerima perbedaan antar umat manusia,” kata Agus.
Oleh karena itu, para santri lulusan pondok pesantren diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa yang tidak hanya pintar. Tetapi juga mampu menghargai nilai-nilai kebhinnekaan dan keberagaman yang ada di Indonesia sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.
Selain itu, lanjutnya, para santri dan kalangan pondok pesantren patut bersyukur karena Presiden Jokowi sangat mengapresiasi peran santri dalam pembangunan nasional, melalui penetapan hari Santri Nasional. Hal ini menjadi bukti, bahwa pemerintah mengakui dan menghargai peran santri, sebagai bagian dari program pembangunan generasi muda.
“Kita perlu berterima kasih kepada Presiden Jokowi yang sudah menetapkan hari Santri Nasional, sebagai wujud apresiasi terhadap keberadaan santri dan pondok pesantren,” tutur Agus.
Selanjutnya, apresiasi pemerintah terhadap para santri perlu dilanjutkan, dalam bentuk partisipasi aktif para santri dalam pembangunan nasional, terutama melalui pendidikan karakter di bidang keagamaan.
“Dimasa depan peran santri dan pondok pesantren sebagai miniatur bangsa Indonesia, dapat terus dilanjukan di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi,” kata Agus.
Kegiatan tersebut diakhiri dengan Deklarasi Janji santri untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional dan bertekad menyatukan aspirasi untuk mendukung serta mempertahankan kepemimpinan Presiden Jokowi agar pembangunan bidang keagamaan bisa berkesinambungan.
(met/JPC)



