PENDIDIKANUNIVERSITAS NUSA PUTRA

Luar Biasa! Mahasiswa Asing Nusa Putra Pentas Drama Sangkuriang di Bazar Internasional 2025

×

Luar Biasa! Mahasiswa Asing Nusa Putra Pentas Drama Sangkuriang di Bazar Internasional 2025

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Suasana Auditorium Nusa Putra University pada, Minggu (15/6/2025) berubah menjadi panggung penuh warna budaya Nusantara. Sejumlah mahasiswa asing yang tergabung dalam Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) sukses memukau ratusan penonton lewat pementasan drama berjudul Sangkuriang, salah satu cerita rakyat terkenal dari tanah Sunda.

Pementasan ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Lebih dari itu, ini adalah bagian dari ujian akhir semester yang harus dilalui oleh para mahasiswa internasional yang belajar bahasa Indonesia di bawah naungan Language Center Nusa Putra University. Dengan mengusung konsep integratif, kegiatan ini menyatukan pembelajaran bahasa, apresiasi budaya, dan pengalaman kolaboratif antarbangsa dalam satu panggung seni.

Bank bjb Tandamata

Dengan penuh semangat, para mahasiswa internasional dari berbagai negara seperti Myanmar, Tanzania, Timor Leste, Sudan, Rusia, Irak, Gambia, Guinea, Maroko, Angola, Burundi, Mesir, Pakistan, dan Jordania, menampilkan lakon klasik Sangkuriang. Mereka tidak hanya berakting, tetapi juga berdialog dalam bahasa Indonesia secara lancar, menunjukkan hasil pembelajaran selama satu semester terakhir.

“Ini bukan hanya tentang bagaimana mereka berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi juga bagaimana mereka memahami dan menyampaikan nilai-nilai budaya lokal lewat ekspresi seni,” ujar Viranie Dwi Monikawatie, dosen pengampu Program BIPA sekaligus penggagas kegiatan ini.

Viranie, lulusan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia dari UPI (2019), memang dikenal aktif menyelipkan unsur seni dalam proses pengajaran bahasa. Pengalamannya mengajar di berbagai negara—dari Thailand, Jepang hingga Finlandia—membentuk pendekatan pengajaran yang holistik, komunikatif, dan menyenangkan.

Dalam pementasan kali ini, ia menggandeng Kakoncara Art Production GWK Sukabumi sebagai tim pemusik pengiring untuk menghidupkan suasana drama. Musik tradisional dan tata suara yang khas memperkuat nuansa magis legenda Sangkuriang yang kental dengan elemen alam, cinta, dan kutukan.

Salah satu pemeran utama, Joseph dari Irak, yang berperan sebagai Sangkuriang, tampak percaya diri di atas panggung. Dalam wawancara usai pertunjukan, ia mengaku pengalaman ini menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya.

“Kami berlatih selama lima minggu. Ini bukan hanya soal akting, tapi juga pengalaman budaya yang luar biasa. Kami berasal dari berbagai negara, tapi di atas panggung, kami jadi satu tim,” ungkap Joseph dengan logat khas, namun lancar berbahasa Indonesia.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Mahira, mahasiswi asal Sudan yang memerankan Dayang Sumbi. Ia merasa bangga bisa memahami cerita rakyat Indonesia dan membawakannya langsung di hadapan publik. “Saya belajar bahwa budaya Indonesia sangat kaya dan cerita-ceritanya menyentuh hati. Ini membuat saya makin cinta belajar bahasa Indonesia” katanya.

Menurut Viranie, pertunjukan ini bukan hanya sekadar ujian akademik, melainkan juga bagian dari misi besar Language Center Nusa Putra untuk mempromosikan Program BIPA kepada masyarakat luas.

“Sampai saat ini, belum banyak kampus di Sukabumi yang memiliki program BIPA. Saya berharap kegiatan ini dapat memicu lahirnya program serupa di institusi lain,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan seni dan budaya bisa menjadi jembatan yang efektif dalam diplomasi antarbangsa, terutama di era globalisasi seperti sekarang.
Tak hanya sebagai penutup semester, pementasan Sangkuriang ini juga menjadi bagian dari rangkaian Bazaar Internasional 2025 yang diselenggarakan oleh International Student Association (ISA) Nusa Putra. Bazaar ini menjadi ajang perayaan keberagaman budaya dari para mahasiswa asing yang sedang menimba ilmu di kampus tersebut.

Kegiatan ini menuai pujian dari para penonton, dosen, dan tamu undangan yang hadir. Banyak yang berharap agar pertunjukan seperti ini bisa rutin digelar tiap tahun sebagai agenda tahunan kampus.
“Kami ingin program ini menjadi inspirasi. Bukan hanya untuk mahasiswa asing, tetapi juga bagi mahasiswa Indonesia agar mereka menyadari pentingnya pelestarian budaya lokal dan peran bahasa dalam membangun pemahaman global,” pungkas Viranie.(wdy)