Khawatir, Guru Usul Tahun Pelajaran Baru Diundur

ILUSTRASI: Siswa sekolah di hari pertama sekolah.

JAKARTA – Rencana membuka sekolah dan memulai tahun pelajaran baru di tengah pandemi Covid-19 menuai kekhawatiran dari para guru. Aktivitas di sekolah justru ditakutkan bisa menimbulkan masalah baru. ”Banyak guru yang khawatir jika sekolah kembali dibuka malah jadi tempat persebaran,” tutur Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo.

Menurut dia, pemerintah harus mempertimbangkan secara matang sebelum memutuskan untuk memulai kegiatan belajar siswa di sekolah. Untuk daerah-daerah yang tidak ada kasus, jauh dari episentrum, dan tidak ada persebaran Covid-19 atau berstatus hijau, pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan. Namun, itu tidak berlaku di daerah dengan status persebaran Covid-19 berwarna merah. ”Sekolah-sekolah yang ada di wilayah tersebut tentunya tidak berani berspekulasi,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Senada, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) M. Ramli menyatakan bahwa wacana membuka sekolah saat pandemi terlalu berani. Sebab, akan sulit mengontrol siswa, terutama siswa SD, untuk dapat mematuhi protokol kesehatan sepenuhnya. ”Di dalam kelas mungkin saja dibuat sesuai protokol kesehatan, tapi di luar kelas bagaimana?” ujarnya.

Kemendikbud, papar dia, harus mengakui bahwa Indonesia belum siap menghadapi pembelajaran dalam kondisi pandemi Covid-19. Karena itu, dia mengusulkan tahun pelajaran baru diundur hingga Januari tahun depan. Dengan begitu, persiapannya jelas. Terutama untuk peningkatan kompetensi guru yang keteteran. ”Kalau sekolah tidak dibuka, untuk apa tahun pelajaran baru dijalankan?” ungkapnya.
Apabila hanya mengandalkan kelas jarak jauh atau pembelajaran dari TVRI dan RRI, menurut Ramli, akan sangat kurang. Konten pembelajaran tersebut jauh dari kurikulum.

Ramli memaparkan, di lapangan, guru-guru yang tergabung dalam IGI sudah bekerja keras membantu guru lain berkembang dalam sistem pembelajaran jarak jauh. Tapi, pemerintah kurang mendukung. Sebab, pedoman pembelajaran jarak jauh belum mengutamakan belajar dalam format guru mengajar siswa dan siswa diajar gurunya.

Sejauh ini Kemendikbud masih mengarahkan ke berbagai portal dan media lain yang jelas memutus komunikasi antara siswa dan guru. Padahal, papar Ramli, belajar daring bisa optimal dengan syarat guru memiliki skill yang cukup, ketersediaan kuota internet, dan alat pendukung. Pihaknya menyanggupi dapat membantu meningkatkan mutu guru dalam waktu enam bulan asal mendapat kepercayaan penuh.

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengatakan, wacana pembukaan sekolah perlu dipertimbangkan dengan matang. Menurut dia, pembukaan sekolah di masa pandemi merupakan sebuah pertaruhan besar. Apalagi, hingga saat ini laju penularan virus korona di tanah air belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Bahkan, kurva kasus positif Covid-19 di sejumlah daerah malah menunjukkan peningkatan tajam. ”Sehingga jika dipaksakan membuka sekolah di wilayah-wilayah tersebut, potensi penularannya di kalangan peserta belajar-mengajar akan sangat besar,” tuturnya. (lum/mia/c11/fal)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan