SUKABUMI — Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober, sejumlah guru yang tergabung dalam wadah organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Sukabumi, serempak menggunakan batik. Pasalnya, batik merupakan ekspresi budaya yang memiliki makna simbolis serta nilai estetika yang tinggi bagi masyarakat Indonesia.
“Keunikan yang indah itu, merupakan salah satu pembentuk karakter bangsa Indonesia yang membedakan kita dengan bangsa lain sehingga dapat menjadi identitas dan jati diri bangsa,” kata Dudung kepada Radar Sukabumi, kemarin (2/10).
Sebab itu, satu minggu sekali dan setiap tanggal 25 setiap guru diwajibkan menggunakan batik. Menurut Dudung, jika dulu sebagai sebagian besar orang Indonesia, batik hanya pantas digunakan pada kesempatan tertentu saja. Seperti upacara adat, pernikahan atau acara resmi.
Namun, saat ini penggunaan batik semakin meluas bahkan pada masyarakat perkotaan, dimana identitas sulit digali, semakin banyak orang yang mengenakan batik dalam berbagai kesempatan dan waktu.
“Semua guru harus menggunakan batiknya. Menjaga takut diambil bangsa lain,” imbuhnya
Dudung memaparkan, batik bukan hanya untuk orang Jawa atau untuk kalangan tertentu saja. Tetapi setiap orang dari berbagai suku dan kelas, kini merasa bangga menggunakan batik.
Maka batik saat ini mengalami pergeseran makna batik sebagai identitas, terjadi dalam masayarakat. Misalnya di jaman penjajahan, batik membedakan orang pribumi dengan non pribumi. “Dulu batik dipakai untuk membedakan kelas sosial seseorang, atau menunjukkan asal daerah seseorang.
Tetapi kini makna batik sebagai identitas mengalami pergeseran dari lingkup daerah ke lingkup nasional, bahkan internasional,” jelasnya.
Dudung menambahkan, Keberadaan batik sebagai identitas dan warisan budaya bangsa Indonesia semakin diakui sejak ditetapkannya batik sebagai world heritage oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Disambut pemerintah Indonesia dengan ditetapkannya 2 Oktober sebagai hari batik nasional.
“Kami bangga menggunakan batik. Sebab, batik merupakan jati diri bangsa Indonesia yang harus dilestarikan,” tutupnya. (Cr16/e)





