Aplikasi tersebut dibuat Armi bersama tim dan saat ini baru bisa dioperasikan lewat website (komputer), pengembangan selanjutnya akan dibuat aplikasi khusus yang bisa digunakan di android dan iOS.
Melalui aplikasi tersebut, ITB membuka peluang kerja sama dengan Arab Saudi dalam penerapan pengaplikasiannya.
Saat ini pun, aplikasi tersebut sedang dalam proses paten HAKI dan meskipun yang dipamerkan masih berupa prototipe namun sudah berfungsi 80 persen dan bahkan saat pameran, sudah diujicoba langsung.
Dia menjelaskan fitur utama dalam sistem tersebut adalah memprediksi temperatur, curah hujan, arah dan kecepatan angin, kelembaban, dan tekanan udara serta fitur warning bencana untuk potensi bencana badai pasir, angin kencang, gelombang panas, dan hujan lebat.
Ia mengatakan nilai plus dari sistem yang dibuat adalah sudah memakai bahasa arab, sehingga memudahkan orang Arab untuk menggunakannya.
“Kenapa kita buatkan khusus, sebab demi mewujudkan ITB sebagai entrepreneurial university, menghilirkan produk teknologi kita sehingga dipakai oleh masyarakat,” katanya.
Aplikasi tersebut dapat memprediksi badai dengan menggunakan satelit namun nanti akan dikombinasikan dengan data lapangan setelah kerja sama terjalin.
Menurutnya, aplikasi tersebut memiliki tingkat keakuratan sangat baik karena daerah Arab Saudi tidak banyak memiliki gunung dan lembah.
“Prediksi di wilayah padang pasir itu lebih gampang daripada di wilayah kepulauan. Bahkan alatnya itu pun bisa dikembangkan dengan sampai akurasi per kilometer. Namun perlu server yang lebih besar. Tergantung nanti permintaan dari Arab Saudi,” kata dia.
(ant)




