“Dengan menggunakan model matematika maka akan diketahui tingkat kesulitan soal-soal yang dikategorikan mudah, sedang, maupun sulit,” terang rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).
Dia menjelaskan, karakteristik soal yang diperoleh pada tahap II, kemudian digunakan untuk menghitung skor setiap peserta. Soal-soal sulit akan mendapatkan bobot lebih tinggi dibanding soal-soal yang lebih mudah.
Tahap-tahap penghitungan skor ini dilakukan oleh tim yang memiliki kompetensi di bidang pengujian, pengukuran dan penilaian.
“Dengan sistem ini, setiap peserta yang bisa menjawab jumlah soal yang sama dengan benar akan memperoleh nilai berbeda tergantung pada soal mana saja yang mereka jawab dengan benar,” bebernya.
Dia mencontohkan, peserta A menjawab dengan benar 5 soal yaitu nomor 1,5,7,1 dan 13. Sedangkan peserta B juga menjawab 5 soal dengan benar yaitu nomor 1, 5, 9, 12 dan 15.
Kedua peserta tersebut akan mendapatkan skor akhir yang berbeda karena butir soal yang dijawab dengan benar oleh peserta A memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan butir soal yang dikerjakan dengan benar oleh peserta B.





