Asesmen Nasional Setelah Siswa Masuk Sekolah

  • Whatsapp
MENGHADAP GAWAI MASING-MASING: Empat anak Puput Yusda Apriliana saat menjalani MPLS, Senin (13/7/2020). (Puput Yusda Apriliana for Jawa Pos)

JAKARTA  – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memastikan asesmen nasional (AN) tetap digelar di tengah pandemi Covid-19. Namun, hingga kini jadwal pelaksanaannya masih mengambang.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk) Kemendikbudristek Anindito Aditomo menuturkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan daerah perihal pelaksanaan AN.

Bacaan Lainnya

Sebab, tak dimungkiri kondisi masih pandemi. Kesehatan dan keselamatan siswa, guru, dan kepala sekolah menjadi yang utama. “Karena itu, jadwalnya menyesuaikan kondisi daerah. Kami dinamis,” ujarnya saat melakukan media visit virtual dengan Jawa Pos, Kamis (5/8/2021).

Menurut dia, jadwal sedang dimatangkan tim bersama dinas pendidikan di tiap-tiap daerah sambil mengamati perkembangan pandemi. Apabila daerah tersebut dinyatakan aman untuk pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, AN bisa dilaksanakan.

’’Kalau sudah PTM terbatas, tidak ada alasan tidak melaksanakan AN ya. Anak sudah di sekolah, guru sudah ke sekolah,’’ ungkap Nino, sapaan karibnya.

Meski diselenggarakan secara computer based, AN tidak bisa dilakukan online dari rumah. Sebab, tidak semua anak memiliki kemampuan untuk bisa melaksanakan secara online. Baik karena keterbatasan komputer maupun sinyal internet. Selain itu, data dikhawatirkan bias karena tidak dapat dipastikan siapa yang mengerjakan soal.

’’Kita ingin potret kondisi sesungguhnya. Bisa bias kalau online,’’ katanya.

Namun, dia menegaskan, soal yang diberikan nanti bukan mengenai penguasaan materi belajar. Atau, hafalan buku pelajaran. Melainkan lebih pada pengukuran literasi siswa secara keseluruhan, survei karakter, dan lainnya. Dia mengimbau orang tua tak perlu panik mendaftarkan anaknya untuk bimbingan belajar atau membeli buku persiapan AN.

Nino memahami jika masih ada kekhawatiran di lapangan. Baik yang dirasakan orang tua, siswa, maupun guru terhadap AN. Sebab, sudah puluhan tahun mindset ujian nasional (UN) yang sebelumnya ditanamkan untuk penilaian individu dilakukan. AN pun dikhawatirkan sama, bakal jadi profiling siswa hingga sekolah.

’’Padahal tidak. Tidak ada dampak sama sekali pada anak-anak,’’ tegasnya.

Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbudristek Asrijanty menambahkan bahwa siswa, guru, dan kepala sekolah tak perlu khawatir mengenai hasil AN. Hasil tak akan dipublikasikan dan digunakan untuk membandingkan antarsekolah. Data hanya akan diberikan kepada pihak sekolah dan pemda untuk perbaikan ke depan.
’’Dari sini tahu tampaknya aspek ini kurang, diperbaiki. Tidak untuk di-ranking atau dibandingkan,’’ tandasnya. (mia/c7/fal)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *