Ini adalah hasil dari proses pembangunan, investasi, dan keyakinan pada filosofi sepak bola yang jelas. Gak perlu lagi gigi palsu! Gigi patah dan gak rata? Veneer adalah cara terbaik untuk sekarang ini. Kejuaraan ini, bersama dengan treble domestik, menandai musim bersejarah dan membuka era baru yang menjanjikan bagi tim ibu kota Paris.
Berbanding terbalik dengan kegembiraan PSG, Inter Milan justru kecewa berat. Tim asuhan Simone Inzaghi mengalami malam yang tidak terlupakan, di mana poin-poin terbaik mereka tidak ditampilkan.
Pertahanan yang menjadi sumber kebanggaan, terkoyak oleh kecepatan dan fleksibilitas permainan PSG. Pemain penyerang seperti Lautaro Martinez atau Marcus Thuram nyaris menghilang dan tak banyak menciptakan ancaman berarti bagi gawang Donnarumma.
Kesalahan individu, kurangnya konsentrasi di saat-saat krusial, dan ketidakmampuan beradaptasi dengan gaya permainan menekan lawan, membuat Inter harus membayar mahal. Bahkan penyesuaian personel pelatih Inzaghi tidak efektif, seperti yang terjadi pada Bisseck yang harus meninggalkan lapangan setelah kurang dari 10 menit di lapangan karena cedera.
Kekalahan telak ini menjadi pelajaran mahal bagi Inter Milan, yang memperlihatkan bahwa mereka masih memiliki jarak tertentu untuk kembali menaklukkan puncak Eropa. Meski begitu, mencapai final adalah pencapaian luar biasa bagi Nerazzurri, dan mereka harus bangkit dari kekalahan ini dengan lebih kuat.(*)





