“Fajar main dari babak pertama sampai semifinal, servisnya aman. Tetapi kenapa di final bisa disalahkan sampai lima kali. Posisi servisnya sama, tingginya sama, semua sama. Bedanya ya service judge-nya, beda orang,” kata Herry.
Pelatih yang punya andil besar ‘melahirkan’ duet Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya ini menilai, BWF perlu mempertimbangkan human error di aturan servis yang baru ini.
“Jadi yang menentukan itu service judge, peluang human error juga besar. Kalau perlu ada hawk eye juga, jadi kalau dinyatakan salah, pemain yang tidak terima bisa challenge (pembuktian dengan tayangan ulang), bukti yang jelas, ada rekaman, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan. Lebih fair. Kalau sekarang kan penilaian sesaat saja, yang tahu hanya service judge dan Tuhan, dan keputusan itu mutlak, tidak bisa diprotes,” pungkas Herry. (adk/jpnn)





