Waduh, Covid-19 Omicron XBB Merebak Jelang Nataru, Pemerintah Bakal Lakukan Ini

Ilustrasi Covid-19.
Ilustrasi Covid-19. (Dok. JawaPos)

JAKARTA — Puncak gelombang kasus Covid-19 varian Omicron XBB diperkirakan terjadi pada Desember. Bertepatan dengan momen libur panjang Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 (Nataru).

Pemerintah diminta tidak meremehkan Omicron XBB serta belajar dari lonjakan kasus di Singapura beberapa waktu lalu. Peringatan terhadap pemerintah untuk tidak meremehkan varian Omicron XBB itu disampaikan epidemolog Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis MikoWahyono.

Bacaan Lainnya

’’XBB itu pernah jadi menakutkan di Singapura, sekitar sebulan yang lalu,’’ kata Yunis saat diwawancarai Minggu (13/11) malam.

Akibat lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron XBB tersebut, tingkat keterisian rumah sakit di Singapura meningkat sekitar 70 persen. Orang yang dirawat karena XBB tersebut ada yang sudah divaksin sekali, dua kali, dan booster atau suntikan ketiga. Selain itu kasus kematian juga mengalami peningkatan.

Yunis mengatakan, karena masih berasal dari keluarga Omicron, subvarian XBB tersebut juga memiliki karakteristik tingkat penularan yang tinggi. Menghadapi resiko penularan varian Omicron XBB tersebut, pemerintah tidak boleh cuek seperti pada kasus subvarian BA.4 dan BA.5 beberapa waktu lalu.

Dia lantas merespons rata-rata kasus harian yang sekarang konsisten di angka 4.000-an. Angka tersebut muncul karena tingkat surveilans yang lemah. Jika tingkat surveilans ditingkatkan, bisa jadi angka kasus positif Covid-19 bisa lebih dari 4.000-an tiap hari.

Yunis mengungkapkan, sejumlah petinggi di pemerintah sudah menyampaikan bahwa prediksi peningkatan kasus terjadi pada Desember. Itu artinya bertepatan dengan momen libur panjang Nataru. Dia sudah menyarankan sejumlah upaya antisipasi kepada pemerintah.

”Termasuk peningkatan surveilans dan lainnya. Tapi pemerintah yang eksekusi,’’ kata Yunis.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menjelaskan, laporan yang dia terima memang ada peningkatan kasus. Termasuk peningkatan angka kematian, untuk orang-orang yang belum divaksin. Untuk itu pemerintah belum menurunkan status pandemi ke endemik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *