”Contohnya adalah buah asam kranji. Itu susah sekali,” tuturnya. Salah satu kendala dalam menanam asam kranji adalah priode berbuahnya yang empat tahun sekali.
Biji buah khas Banten itu sangat susah disemai. Selain itu, proses memanen asam kranji harus dilakukan dengan menebang dahan besarnya. Sebab, cukup sulit untuk memetik buahnya yang tersebar di sekitar daun.
Enung Sri Mulyaningsih yang menjadi kepala Kebun Plasma Nutfah Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pada 2014-2017 menceritakan, semula kebun khusus pembibitan buah langka tidak serapi saat ini.
Area untuk kebun bibit itu sebelumnya tidak terurus dan dipenuhi semak belukar.
Kemudian, mereka menjalin kerja sama dengan PT Astra International Tbk melalui program CSR Pranaraksa (program konservasi keanekaragaman buah langka Nusantara).
Sesuai dengan nama program tersebut, salah satu fungsinya adalah melakukan konservasi buah lokal Nusantara.
Melalui program itu pula, area pembibitan yang belum terawat disulap menjadi pusat pembibitan yang tertata.
Jalinan kerja sama tersebut diresmikan pada Juli 2017. Sedangkan area pembibitan diresmikan April lalu. Di dalamnya ada bangunan sebagai kantor serta sebuah pendapa untuk pelatihan.



