Polisi Sebut Kasus Novia Widyasari Bunuh Diri, Tak Temukan Unsur Pemerkosaan

Novia Widyasari semasa hidup berfoto bareng Randy. (Istimewa)

JAKARTA — Polisi memastikan tidak ada unsur pemerkosaan selama Bripda Randy Bagus Sasongko (RBS) berpacaran dengan Novia Widyasari Rahayu (NWR), 23. Karena itulah, kepolisian menjerat Bripda RB dengan pasal aborsi, bukan pasal pemerkosaan.

Hal itu ditegaskan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko saat dihubungi Jawa Pos Radar Mojokerto, Minggu (5/12). Menurutnya, selama tiga tahun berpacaran korban sudah dua kali melakukan aborsi. ’’Logikanya, itu kan (atas dasar) suka sama suka. Berarti unsur pemerkosaan kan ndak terpenuhi,” kata dia seperti dikutip Radar Bromo (Jawa Pos Group), Senin (6/12).

Bacaan Lainnya

Bripda RB ditetapkan tersangka karena keterlibatannya dalam aborsi terhadap NWR. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Bripda RB mengakui telah menghamili kekasihnya. Pelaku yang berdinas di Polres Pasuruan ini juga ikut dalam proses aborsi sebanyak dua kali.

”Makanya yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka dan sekarang ditahan di rutan Mapolda Jatim,” terangnya.

Menurut Gatot, informasi yang menyebutkan korban hamil karena diperkosa oleh RB, tak terbukti. Sebab, selama berpacaran keduanya sudah berkali-kali melakukan hubungan layaknya suami istri. Dari sana, korban hamil dua kali. Sehingga kemudian disimpulkan bahwa aksi itu dilakukan atas dasar suka sama suka tanpa unsur paksaan.

Hal yang sama disampaikan Waka Polda Jatim Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo dalam konferensi pers di Mapolres Mojokerto, Sabtu malam (4/12). Pihaknya mengaku belum menemukan bukti aksi pelaku yang menjurus pada dugaan perkosaan. Justru, hasil pemeriksaan terhadap pelaku menunjukkan bahwa hubungan keduanya baik-baik saja.

’’Kami tidak mendapatkan (bukti terkait) itu. Karena mereka pada prinsipnya adalah pacaran mulai Oktober 2019 sampai korban sebelum meninggal. Dan mereka happy happy saja,’’ jelasnya.

Gatot juga memastikan korban tidak pernah melaporkan Bripda RB ke propam. Baik berupa aduan, maupun laporan resmi. ”Kami sudah cek. Tidak ada laporan, baik di Polres Mojokerto, Polres Pasuruan, maupun Polda (Jatim) terkait dumas,” imbuh Gatot.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *