Pabrik produksi 1,5 juta obat terlarang di Lembang Bandung Dibongkar Polda Jabar

  • Whatsapp
narkoba
Polisi mengamankan delapan orang tersangka yang terlibat produksi obat-obatan keras ilegal di di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (9/7/2021). ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi.

BANDUNG — Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jawa Barat membongkar pabrik di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang memproduksi 1,5 juta butir obat terlarang berlogo LL dan Y yang siap diedarkan.

Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Erdi A Chaniago mengatakan penemuan pabrik rumahan di Lembang itu berawal dari adanya pengungkapan di Tasikmalaya yang memproduksi obat terlarang serupa.

Bacaan Lainnya

“Dari situ (Tasikmalaya) kita menangkap lima orang berinisial SYM (pemilik pabrik di Tasikmalaya), AS (kurir), AB, IS, dan S (peracik). Dari pengungkapan di Tasikmalaya didapatkan barang bukti sekitar 300 butir obat,” kata Erdi di lokasi pengungkapan, Jumat.

Erdi menjelaskan dari pengungkapan di Tasikmalaya itu kemudian penyidik melakukan penyelidikan dan menemukan pasangan suami istri berinisial MAT dan CS yang merupakan pemasok bahan baku.

Dari pemeriksaan suami istri itu, kata dia, akhirnya polisi menemukan bahwa ada pabrik rumahan lain yang menerima pasokan bahan baku, yakni di Lembang.

Lokasi pabrik di Lembang berada di tengah permukiman warga. Menurut Erdi, warga sekitar tidak mengetahui adanya aktivitas terlarang di bangunan itu.

“Jadi di sini kita temukan kembali pabrik rumahan. Dari tempat ini kita amankan seorang pelaku berinisial SS,” kata Erdi.

Di tempat tersebut polisi menemukan beragam barang bukti mulai dari 1,5 juta butir obat keras berlogo LL dan y, dua mesin cetak tablet, oven, mesin mixer, dan puluhan karung berisi tepung bahan baku.

Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Barat Kombes Pol Rudy Ahmad Sudrajat mengatakan obat-obatan tersebut didistribusikan ke daerah Jawa Timur hingga ke Pulau Sulawesi, dan Pulau Kalimantan.

“Jadi obat-obatan itu tidak dijual di sekitar Jawa Barat saja,” kata Rudy.

Menurut Rudy, obat tersebut dijual dengan harga Rp10 ribu per butir. Dengan penemuan sebanyak 1,5 juta butir, maka jaringan pabrik ini memiliki omzet hingga Rp1,5 miliar.

“Jadi bahan bakunya itu mengandung Trihexphenidyl, bahan aktifnya itu, jadi bisa menimbulkan halusinasi tingkat tinggi,” kata dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *