JAKARTA — Lebih dari sebulan operasi pencarian dan penyelamatan KRI Nanggala-402 berlangsung di perairan utara Bali. TNI-AL menyatakan, bersama Angkatan Laut Tiongkok, pihaknya sudah berusaha sebaik-baiknya. Namun, mereka tidak bisa memaksakan diri terus melanjutkan operasi tersebut.
Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI-AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono, tim gabungan pun sudah memutuskan menghentikan operasi tersebut terhitung mulai Rabu (2/6). ”Operasional sudah (berhenti),” katanya kepada Jawa Pos.
Pihaknya tinggal menunggu keputusan resmi terkait dengan hal itu.
Dalam operasi tersebut, TNI-AL mengerahkan kapal-kapal dan prajurit-prajurit AL yang punya kemampuan penyelamatan bawah permukaan laut. Sementara itu, AL Tiongkok mengirimkan tiga kapal mereka: PLA Navy Ship Ocean Tug Nantuo-195, PLA Navy Ocean Salvage & Rescue Yong Xing Dao-863, dan Scientific Salvage Tan Suo 2.
Nanggala tenggelam bersama 53 kru di dalamnya pada akhir April lalu. Sejak keputusan menghentikan operasi penyelamatan KRI Nanggala-402 diambil, kapal-kapal AL Tiongkok tidak lagi beroperasi di Laut Utara Bali. Komandan Gugus Keamanan Laut Komando Armada II Laksamana Pertama TNI I Gung Putu Alit Jaya menyatakan bahwa rapat koordinasi untuk mengakhiri operasi tersebut sudah dilaksanakan.
Perwira tinggi TNI-AL dengan satu bintang di pundak itu mengakui, operasi yang dilaksanakan bersama-sama di Laut Utara Bali bukan tugas yang mudah. Keberadaan KRI Nanggala-402 di dasar laut dengan kedalaman mencapai 839 meter menjadi tantangan bagi tim yang bertugas. Sepanjang operasi penyelamatan itu, sudah puluhan kali penyelaman dilaksanakan.(wan/jpg)






