“Saya dikira orang gila, mainan baru di sungai. Lagi mau ambil kamera, ada orang lempar batu (di rock balancing). Ya runtuh semua to. Pas balik lagi di sana, sudah runtuh. Aduh mau foto apa ini. Dari situ saya tahu emosional kontrolnya harus bagaimana,” katanya.
Ia merasa memang tidak semua orang menerima bahwa itu sebuah seni dan dianggap mainan. Dirinya pun perlahan kembali memulai membuatnya lagi dari nol, dan kemudian difoto. “Saya foto dari berbagai angle. Ngopo nesu (ngapain ngambek sama orang yang lempar batu). Misal ada orang saya marah-marahi karena belum bisa baca, apa bijak,” tuturnya.
Karena setiap orang menurutnya mempunyai keterbatasan. Pemahaman yang belum dimengerti, lebih baik ia mencoba memberikan edukasi dengan cara membuktikan kalau itu sebuah seni. “Setelah tahu kalau saya asyik foto-foto, akhirnya orang itu paham kalau itu sebuah seni,” ucapnya.
Filosofi lainnya dari gravity itu, lanjut pria yang juga merupakan seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta tersebut, rock balancing terbentuk dari 2 garis antara vertikal dan horizontal. “Vertikal menggambarkan antara manusia dengan Tuhannya,” katanya.
Sedangkan horizontal antara alam semesta dengan manusia itu sendiri. “Dari atas ke bawah (manusia) itu nol. Begitupun secara horizontal, manusia itu nol, zero point-nya itu. Kita itu nol. Sehebat apapun manusia, harus instrospeksi diri jangan sombong. Menemukan sikap sederhana,” pungkasnya.(dho/JPC)



