Menakar Peluang Duet Prabowo-Airlanga

KOMPAK : Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto saat bersama Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto

JAKARTA — Ada upaya memasangkan Prabowo Subianto dengan Airlangga Hartarto pada Pilpres 2024. Duet ini dinilai potensial karena berasal dari partai yang punya eleltabilitas tinggi.

Kalau Gerindra dan Golkar berkoalisi, sudah memenuhi ambang batas presiden untuk mengusung Prabowo – Airlangga. Sebab pada Pileg 2019, Gerindra memperoleh 12,57 persen atau 78 kursi dan Golkar dapat 12,31 persen atau 85 kursi.

Bacaan Lainnya

Jadi, kalau dua partai ini berkoalisi, maka tidak perlu pusing lagi memperoleh perahu untuk mengusung duet Prabowo – Airlangga.

Masalahnya, siapa yang layak jadi capres dan cawapres ?

Kalau dilihat dari Pileg 2019,   perolehan suara Gerindra dan Golkar tidak berbeda signifikan. Karena itu, baik Prabowo maupun Airlangga bisa menjadi capres atau cawapres.

Namun kalau dilihat dari elektabilitas personal, elektabilitas Prabowo jauh mengungguli Airlangga. Prabowo elektabilitas sangat tinggi, sementara Airlangga sangat rendah.

Atas dasar elektabilitas personal, maka Prabowo yang layak jadi capres dan Airlangga menjadi cawapres.

Sayangnya, Prabowo dan Airlangga berasal dari partai nasionalis. Kalau pasangan ini diusung tentu akan berhadapan dengan calon PDIP yang juga dari nasionalis. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi pasangan Prabowo-Airlangga untuk memenangkan pilpres 2024.

Karena itu, kalau calon pasangan ini ingin memenangkan pilpres 2024, maka perlu dukungan dari partai Islam atau ormas Islam yang cukup besar.

Masalahnya, apakah partai Islam dan Ormas islam mau mengusung pasangan Prabowo-Airlangga ? Kalau partai Islam kemungkinan masih ada yang mau mendukung  pasangan ini. Peluang itu sangat bergantung dari kemampuan Prabowo dan Airlangga menyakinkan partai Islam tentang peluangnya untuk menang pada pilpres 2024.

Namun untuk sebagian besar Ormas Islam tampaknya agak sulit untuk mau mendukung pasangan Prabowo-Airlangga. Sebab,  Prabowo telah mengecewakan sebagian ormas Islam dengan masuknya ia ke Kabinet Jokowi.(*)

M. Jamiluddin Ritonga

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Dekan FIKOM IISIP Jakarta 1996 – 1999.

Pos terkait