NASIONAL

Melongok Potret Kemiskinan di Tuban Makan Sulit, Masih Hidupi 20 Kucing

×

Melongok Potret Kemiskinan di Tuban Makan Sulit, Masih Hidupi 20 Kucing

Sebarkan artikel ini

Ketika diwawancara Jawa Pos Radar Tuban minggu  (28/1), Seneng mengaku kucing-kucing tersebut merupakan buangan dari sejumlah orang yang tak dia kenal. Beberapa orang membuang kucing di depan rumahnya begitu saja. Tak tega, lantas kucing tersebut diadopsi di dalam rumah reyot peninggalan orang tuanya. Tak sedikit kucing tersebut dipelihara hingga beranak pinak.

Sudah tak terhitung berapa lama Seneng hidup serba kekurangan. Untuk makan, setiap harinya dia berharap dari belas kasihan orang lain. Bahkan listrik yang mengalir di rumahnya untuk menyalakan dua bohlam lampu saja dialiri salah satu tetangganya secara cuma-cuma.

Bank bjb Tandamata

Sudah puluhan tahun Seneng hidup sebatang kara. Dia mengaku mempunyai enam saudara, namun semuanya sudah tiada. Rumah yang dihuninya merupakan milik orang tuanya yang sudah lama meninggal. Nenek ini dulunya menyambung hidup dengan berjualan makanan ringan keliling. Karena sudah renta, dia memutuskan untuk berhenti jualan.

Satu-satunya yang menjadi andalannya untuk bergantung hidup adalah bantuan Pemkab Tuban sebesar Rp 200 ribu per bulan. Rumah Seneng pernah mendapat program bedah rumah dari pemkab pada 2010.
Namun, karena tidak ada perawatan, rumahnya sudah tak layak huni karena kerap bocor ketika hujan turun.Masro’i, tetangga rumahnya menuturkan, Seneng melalui dirinya sudah pernah mengajukan program pemasangan listrik gratis.

Namun sudah lebih dari satu tahun pendaftaran listrik gratis tersebut tidak digubris. Sementara itu, listrik yang mengalir dari rumah tetangganya itupun tidak bisa mengalir jika sang tetangga tidak berada di rumah.
Tak hanya tidak teraliri listrik, sumber air satu-satunya rumah Seneng hanyalah sumur yang terletak di rumah belakangnya. Agar bisa mendapat air untuk mandi, Seneng menunggu belas kasihan tetangganya untuk mau menimba air dari sumur.