Petani kentang di tempat yang berada di ketinggian 2.000 mdpl itu saban tahun menjumpai bun upas menyelimuti perkebunan mereka. “Tapi, nanti diganti lebih banyak karena tanahnya jadi subur,” imbuhnya.
Karena itu pula, masyarakat Dataran Tinggi Dieng sama sekali tidak terpengaruh. Mereka tetap sehat-sehat saja meski bun upas turun bersamaan dengan cuaca ekstrem yang terjadi hampir di seluruh Jawa. “Sudah biasa semua di sini,” tegas Mujiono.
Akhir pekan lalu, Dataran Tinggi Dieng kebanjiran wisatawan. Sebagian wisatawan penasaran ingin mengetahui lebih jauh fenomena embun es yang melanda Dieng. Karena itu, kunjungan wisatawan tersebut dimanfaatkan warga untuk mengais rezeki tambahan.
Misalnya, yang dilakukan Mujiono yang juga bekerja sebagai pemandu wisata di Candi Arjuna. “Bagi kami, kedatangan bun upas juga kami tunggu. Soalnya, juga menghasilkan tambahan rezeki,” tutur Mujiono.
Selain positif bagi destinasi wisata, bun upas punya sisi baik bagi produsen manisan carica. Pepaya gunung yang tumbuh subur di Dataran Tinggi Dieng itu merupakan salah satu jenis tanaman yang tahan bun upas.
Sedahsyat apa pun bun upas menerjang, carica yang sudah tumbuh besar tidak akan mati. Malah bisa jadi semakin subur akibat efek bun upas terhadap tanah.



