Walau tidak semua kentang yang kena “serangan” bun upas busuk, embun es itu tetap saja merepotkan para petani. Pasalnya, kehadiran bun upas tidak bisa diprediksi dan dihindari. “Setiap tahun pasti (bun upas) turun,” ucap Purwandi.
Menurut dia, bun upas paling dahsyat biasanya turun dalam bulan Agustus. Selain berlangsung lama, volumenya banyak. Tidak hanya mematikan berhektare-hektare kebun kentang, tapi juga tanaman lain, termasuk rumput-rumput. “Waktu turun Jumat (6/7), belum semua kena. Kalau parah, semuanya mati,” ucapnya.
Untuk itu, Purwandi sudah memutuskan untuk tidak menanam kentang sampai Agustus nanti. Dia tidak ingin gagal panen lagi. Karena itu, sambil menunggu waktu yang pas, dia memilih bekerja serabutan. “Yang penting bisa makan,” ujarnya.
Hal yang sama dialami Sri Rejeki. Perempuan 54 tahun tersebut tampak pasrah saat Jawa Pos menemuinya di kebun kentangnya. Satu per satu tanaman kentang dia cabuti. Sama dengan milik Purwandi, daun kentang yang ditanam Sri sudah kering. “Mati semua dimakan bun upas,” tuturnya.
Meski kecewa lantaran kentang yang ditanam mati, dia tetap bersyukur. Sebab, biasanya tanah perkebunan mereka bakal jauh lebih subur setelah diselimuti bun upas. “Hasil panennya bisa dua kali lipat dari biasanya,” kata Sri.
Misalnya, untuk kebun yang biasanya menghasilkan satu kuintal setiap kali panen, setelah diselimuti bun upas, kelak panennya bisa jadi 2 kuintal. Para petani yakin, setelah menelan pahit lantaran bun upas menggagalkan panen, embun es itu juga akan melipatgandakan hasil pertanian mereka.



