JAKARTA — Pandemi Covid-19 telah memakan banyak korban jiwa di berbagai belahan dunia, tepatnya di 156 negara yang terinfeksi virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Hubei, China.
Jumlah kematian Covid-19 menjadi perhatian dunia. Sebab, majalah The Economist membuat suatu perhitungan kasar mengenai jumlah sebenarnya dari yang dicatat otoritas pemerintah di 156 negara yang terinfeksi.
Dalam laporan terbarunya yang berjudul The pandemic’s true death toll yang terbit pada Selasa (2/11), The Economist memperkirakan angka kematian berlebih di dunia berada dalam rentang angka 10,5 juta hingga 19,6 juta, atau lebih tinggi dari yang dicatat lembaga resmi yang sebanyak 5 juta angka kematian akibat Covid-19.
Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, menanggapi temuan The Economist tersebut, melalui akun Twitternya pada Rabu (3/11).
Dia memposting bagian headline dari laporan The Economist ini dalam bentuk gambar tangkap layar, seraya melontarkan satu pertanyaan menggelitik mengenai angka kematian Covid-19 di dunia termasuk Indonesia.
“Pertanyaan yang sulit dijawab. Siapa yang bertanggung-jawab atas kematian karena Covid-19 di negara anda, bapak Presiden?” cuit Pandu dikutip redaksi pada Kamis dini hari (4/11).
Masih terkait dengan angka kematian Covid-19, baru-baru ini Presiden Joko Widodo mengakui kesalahan pemerintah Indonesia dalam menghadapi Covid-19 saat awal mula masuk ke dalam negeri.
Jokowi mengakui bahwa pemerintah menganggap remeh Covid-19, sehingga harus mendapati banyak korban meninggal dunia akibat Covid-19, yang angkanya hingga Rabu kemarin (3/11) sudah mencapai 143.481 jiwa.






