Kepala BMKG jadi Tersangka Pencabulan Anak di Bawah Umur

  • Whatsapp
ilustrasi pencabulan anak

RADARSUKABUMI.com – Kepala BMKG Alor, Nusa Tenggara Timur, berinisial AB dan stafnya berinisial IJ resmi ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Kapolres Alor AKBP Agustinus Chrismas Tri Suryanto mengatakan bahwa dua tersangka kasus tersebut telah ditahan pihak Polres Alor untuk 20 hari ke depan.

“Setelah gelar perkara, kami sudah tingkatkan statusnya dari terlapor menjadi tersangka pada per tanggal 22 Agustus lalu,” katanya kepada ANTARA saat dihubungi dari Kupang, Kamis.

Bacaan Lainnya

Keduanya saat ini sudah berada di ruang tahanan atau sel Mapolres Alor untuk dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan. Ia mengatakan keduanya ditetapkan sebagai tersangka setelah keluarga dari beberapa anak yang menjadi korban pencabulan itu melaporkan aksi bejat kedua tersangka itu kepada polisi.

Keduanya kata Kapolres dijerat dengan Pasal 81 Ayat 5 Jo Pasal 81 Ayat 2 Jo Pasal 81 Ayat 1 Jo Pasal 76 D Undang-Undang RI nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Polisi sendiri ujar dia mengenakan pasal pemberatan, karena kasus pencabulan itu tidak hanya terjadi pada satu anak di bawah umur, tetapi ada tiga orang anak. “Korbannya lebih dari satu orang. Sehingga pasal pemberatan kami kenakan,” tambah dia.

Kapolres menambahkan bahwa dalam kasus pemeriksaan tersebut, ada beberapa nama juga disebut oleh kedua tersangka. Namun tim penyidik tidak ingin langsung menyimpulkan, karena masih dalam pendalaman kasus.

“Alat bukti belum ada. Kalau ditemukan maka kami akan langsung menindaknya, agar kejadian pencabulan anak di bawah umur tersebut tidak terjadi lagi,” ujar dia.

Institusi, Kini Mendekam di Balik Jeruji Ia mengatakan dalam waktu dekat berkas perkara kedua tersangka akan dikirim ke Kejaksaan Negeri Alor.(antara/jpnn)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *