Hasil penelusuran Suwito, kopi kare sempat merajai pasar Eropa pada era 1900-an. “Saya menelusuri sejarahnya sampai naik ke atas Kandangan, tanya pengelola pabrik kopi dan sesepuh di sana. Kata mereka, Presiden Soekarno pernah mencicipi kopi kare ini,” kenangnya.
Sejak itulah Suwito tergelitik untuk meracik kopi. Dia menggaet Ardiyan Agung Nugroho, akademisi sekaligus penggiat gastronomi. Juga Haryo Eko Baskoro, chef kuliner profesional, dan Anton Ali Wardana, seorang event coordinator. “Setelah bertemu, kami sepakat menjadikan kopi kare ikon Madiun,” ucapnya.
Januari lalu Suwito dkk beserta puluhan petani kopi kare bertemu di rumah peninggalan nenek Suwito. Dari pertemuan itu terbentuk komunitas Blanggreng. Mereka berkomitmen mengolah kopi kare lebih berkualitas dan sesuai standar internasional. “Kami segmennya end user dari kelas menengah ke atas. Ini kopi kelas premium,” ungkapnya.
Pelan tapi pasti, produk JavaWilis pun mulai go international. Setidaknya sudah merambah pasar Thailand dan Australia. Pada November 2017 roast bean kopi kare buatan Suwito hadir dalam Wonderful Indonesia Festival di One World Mall, Bangkok, Thailand. Saat itu 12 kilogram JavaWilis robusta dan 5 kilogram JavaWilis excelsa yang diusung ludes dibeli pengunjung festival. “Yang ke sana partner lain. Difasilitasi Kementerian Pariwisata,” ungkapnya.
Sejak itu pula nama JavaWilis kian dikenal publik. JavaWilis mengandalkan proses organik untuk penanaman kopi. Terbukti, penggunaan pupuk organik menghasilkan rasa kopi yang berbeda. Petani lokal juga diajak memetik biji kopi dengan baik dan benar. “Petiknya harus satu per satu dan hanya biji kopi yang warnanya merah,” jelasnya.
(*/isd/c9/diq)



