Berkat Wajan Hitam Warisan Nenek, Suwito Kembalikan Kejayaan Kopi Kare

Kopi kare konon merupakan minuman favorit pada masa kolonial Belanda. Kopi itu pernah merajai pasar Eropa pada era 1900-an.

DILA RAHMATIKA, Madiun

SUASANA sebuah rumah di Dusun Gondosuli, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, itu terasa adem. Maklum, rumah tersebut berlokasi di wilayah pegunungan. Di halamannya yang luas, tampak hamparan biji kopi warna hitam kecokelatan sedang dijemur.

Memasuki ruang produksi, Suwito terlihat sedang sibuk menyangrai biji kopi di wajan tanah di atas tungku berbahan bakar arang kayu durian dan nangka. Sesekali hidungnya mendekat ke biji kopi sambil memejamkan mata. Sejurus kemudian, kepalanya manggut-manggut.

Lalu diangkatnya biji kopi di wajan itu dan dituangkannya di tampah. Aktivitasnya berlanjut dengan napeni biji kopi. Memisahkan antara biji dan kulitnya. “Setelah bersih, didinginkan selama dua hari, lalu dimasukkan stoples. Biji kopi bisa tahan satu tahun. Kalau sudah jadi bubuk, tahan enam bulan,” kata Suwito yang juga owner produk kopi berlabel JavaWilis.

Suwito mulai bereksperimen dengan biji kopi kare pada 2016. Lebih dari satu tahun dia secara khusus belajar otodidak me-roasting kopi. Modalnya wajan hitam warisan sang nenek. “Juga lumpang kayu buat nubruk kopi. Tapi, lumpangnya rusak dimakan rayap. Yang ada lumpang batu,” ungkapnya.

Ketertarikan Suwito mengolah biji kopi tak lepas dari kampung halamannya yang sejak zaman penjajahan sudah akrab dengan produksi jenis minuman itu. Pada era kolonial dulu, sekitar 1911, berdiri pabrik pengolahan kopi. Pekerjanya warga sekitar Dusun Gondosuli. Termasuk mbah buyut Suwito.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.