JAKARTA— Peneliti ICW Ilyas Firdaus menilai ada indikasi atau penyimpangan yang bisa terjadi dalam pengelolaan sumber energi pangan maupun sumber daya alam. Penyimpangan tersebut bisa terjadi akibat buruknya pengawasan terkait perencanaan maupun infrastruktur.
“Bicara penganggaran dan kebutuhan sehingga banyak kondisi yang membuat buruknya pangan sumber daya alam energi,” ucapnya saat ditemui pada Sabtu (16/2).
Dalam data ICW dipaparkan buruknya pengelolaan terjadi sejak tahun 2005-2017. Misalnya dalam pengelolaan impor pangan Indonesia di mana ada indikasi praktek unreporting sebesar 2.743.296 atau senilai USD 1,452 miliar.
“Kondisi yang sama juga terjadi pada pengelolaan ekspor hasil tambang Indonesia (Batubara, Nikel, Timah) dari data ICW sejak 2007-2017 ekspor tiga komoditas tambang diindiaksi merugikan keuangan negara sebesar USD 10,34 miliar,” ungkapnya.
Dia menilai akar masalah terjadi hal seperti demikian karena adanya sektor-sektor yang dikuasai segelintir orang, dengan iming-iming sebagai penyumbang dana kampanye. “Apalagi ini Pilpres, masing-masing didukung segelintir orang untuk mendapat donasi bagi parpol,” tuturnya.
Diapun menantang kedua paslon yang akan beradu debat pada Minggu (17/2) energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastuktur untuk bisa beradu argumen tanpa gimmick atau normatif.




