Untuk setiap cluster, akan dibangun satu buah sekolah PAUD dan sebuah Sekolah Dasar (SD). Tempat sampah umum, serta ruang terbuka untuk kegiatan warga serta tempat parkir sepeda motor.
Kontruksi huntara, selain tahan gempa , juga mengakomodir cuaca Kota Palu yang panas karena berada di garis khatulistiwa. Arie merinci, konstruksi akan menggunakan baja ringan dengan dinding berbahan glassfiber reinforced cement (GRC). Setiap unit huntara akan dilengkapi 4 toilet, 4 kamar mandi, septik tank, tempat mencuci, dan dapur. ”Nantinya dilengkapi aliran listrik dengan daya 450 watt setiap bilik,” kata Arie.
Arie memperkirakan, huntara bisa dipakai dalam waktu dua tahun sampai hunian tetap yang dibangun pemerintah selesai. Menurut Arie, pembangunan huntara tidak seluruhnya dilakukan oleh Kementerian PUPR.
Pemerintah juga terbuka bagi pihak lain yang ingin membangun huntara diatas lahan-lahan yang disiapkan dengan desain yang sama dengan yang dibangun Kementerian PUPR. “Kami harap desainnya sama, tempatnya menyatu dengan huntara Kementerian PUPR biar tidak terjadi kecemburuan,” ujar Arie.
Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan tidak akan ada pemindahan ibukota propinsi Sulawesi Tengah dari Kota Palu pasca gempa dan tsunami. Karena pemindahan sebuah ibukota berbiaya mahal. Bukan hanya pemindahan gedung pemerintah daerah tapi juga harus pemindahan instansi lain seperti Polda.
“Pemindahan pegawainya bagaimana rumahnya? Kalau ada 2.000 3.000 pegawai mesti bikin 3.000 rumah di situ. Bagaimana caranya? semua instansi, semua Kapolda harus pindah, saya kira agak berlebihan,” ujar JK di kantor Wakil Presiden, kemarin (16/10).



