Triwulan Pertama, Dinkes Kota Sukabumi Temukan 29 Kasus HIV/AIDS Baru

Wahyu Hardiana
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Wahyu Hardiana

SUKABUMI — Kasus penularan Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kota Sukabumi, nampaknya masih tinggi.

Bagai mana tidak, dari data yang tercatat Dinas Kesehatan (Dinkes) terhitung Januari hingga Maret 2022 menemukan sebanyak 29 kasus.

Bacaan Lainnya

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Wahyu Hardiana mengatakan, dari jumlah total kasus yang ada sampai saat ini masih didominasi kalangan Laki-laki Suka Laki-laki (LSL) yang jumlahnya mencapai 15 kasus.

“Sedangkan pasangan berisiko tinggi (Risti) menyusul dengan jumlah enam kasus, 2 Wanita Pekerja Seks (WPS), 3 pelanggan, 1 pengguna napza suntik (Penasun) dan 2 lainnya,” kata Wahyu kepada Radar Sukabumi, Rabu (13/4).

Lanjut Wahyu, adapun pengidap HIV ini didominasi usia mulai dari 25 tahun sampai 49 tahun dan yang ke dua dari usia 15 tahun sampai 24 tahun.

“Ya, di usia ini memang beresiko tinggi. Karena kebanyakan yang terpapar itu di usaja 25 sampai 49 tahun,” ucapnya.

Menurutnya, sejauh ini penderita HIV/AIDS sudah ditangani dengan melakukan terapi menggunakan obat Antiretroviral (ARV) yang dalam terapinya didampingi langsung Lembaga Swadaya Masyarakat Lensa Sukabumi sebagai mitra KPA.

“Pendampingan kepada ODHA ini perlu agar mereka tetap semangat dan yang terpenting tidak ada niatan untuk menyebarkan virus mematikan tersebut,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dinkes bekerjasama dengan KPA untuk memberikan bantuan terapi serta untuk menekan angka kasus penyebaran penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan menggerogoti sistem imun tubuh manusia ini juga secara rutin melakukan sosialisasi atau penyuluhan pencegahan HIV/AIDS.

“Kami melibatkan komunitas peduli HIV/AIDS untuk melakukan penjangkauan terhadap ODHA yang belum terdata dengan cara melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap komunitas kunci seperti LSL, WPS, Penasun dan lain-lain,” pungkasnya. (bam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *