Duit Nasabah Macet, Diskumindag Kota Sukabumi Segera Panggil Kacab KSP Sejahtera Bersama

KSP-Sejahtera-Bersama-Sukabumi
Sejumlah nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sejahtera Bersama Cabang Sukabumi di Jalan RE Martadinata, Cikole, Kota Sukabumi memasang sepanduk bertuliskan tuntutannya.

SUKABUMI — Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Dikumindag) Kota Sukabumi, angkat bicara soal kisruh dana tabungan nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sejahtera Bersama dengan dana simpanan mencapai Rp100 miliar.

Dari informasi yang diperoleh Radar Sukabumi, sejumlah nasabah sempat sempat melakukan audiensi untuk mempertanyakan uang nasabah di Kantor Cabang di Jalan RE Martadinata pada pada Kamis (11/8) lalu.

Bacaan Lainnya

Kepala Diskumindag Kota Sukabumi, Ayi Jamiat mengatakan, Diskumindag bakal segera memanggil kepala cabang untuk dimintai keterangan. Menurutnya, kondisi tersebut akan berpengaruh pada stabilitas koperasi yang ada di Kota Sukabumi. “Ya saya cek dulu dan akan datangkan kepala cabang nya. Tapi, memang tidak bisa masuk ke internal, ada pengawas koperasi, pengurus, jadi hanya memonitoring saja, menjaga stabilitas dan memanggil untuk mengetahui permasalahannya apa,” kata Ayi kepada wartawan, Jumat (12/8).

Lanjut Ayi, permasalahan mengenai dana macet tersebut tidak hanya terjadi di Kota Sukabumi. Tetapi, hampir merata hingga tingkat nasional. Bahkan, KSP Sejahtera Bersama sudah masuk dalam daftar sanksi Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) yaitu sebagai koperasi yang diawasi khusus. “Hal itu, menjadi persoalan nasional. Data provinsi itu, masuk ke koperasi yang diawasi Kementerian Koperasi. Jadi kewenangannya pusat, dari dinas hanya memonitor saja, melaporkan ke provinsi dan pusat,” bebernya.

Sementara itu, salah satu nasabah, Budi Wijaya mengatakan, pada Kamis belasan nasabah sempat melakukan audiensi ke Kantor Cabang Kota Sukabumi. Nasabah menuntut agar pihak koperasi dapat memberikan dana tabungan dan transparansi. “Jadi kami mendatangi kantor cabangnya, cuman kasarnya semua PHP (Pemberi Harapan Palsu) lagi. Anggota saya Rp 400 juta cuman dikasihnya Rp 500 ribu,” ucapnya.

Budi menernagkan, total anggaran tabungan nasabah yang belum dicairkan cukup besar. Bahkan, per nasabah ada yang mencapai miliaran rupiah. “Kurang tahu pasti total angkanya, sekitar di atas Rp 100 miliar. Nggak tentu tiap orang, ada yang jutaan, ratusan juta sampai miliaran,” cetusnya.

Budi menambahkan, para nasabah saat ini menuntut agar KSP tersebut memprioritaskan pencairan dana tabungan yang saat ini dibutuhkan untuk biaya pendidikan anak, biaya modah usaha dan lain-lain. Selain itu, nasabah juga meminta transparansi Koperasi Cabang Sukabumi terkait data pemberian dana bagi nasabah. “Intinya kami datang ingin diprioritaskan pembayaran karena butuh banget dan posisi sangat menderita. Tuntutannya kembali dana dan transparansi karena nggak transparan. Kami curiga yang dapat orangnya itu-itu saja,” pungkasnya. (bam)

Diskumindag Kota Sukabumi
Kepala Diskopdagrin Kota Sukabumi Ayi Jamiat saat diwawancara Radar Sukabumi usai menggelar sosialisasi Pasar Modern Pelita.

Pos terkait