“Saya tinggal di sini sama suami yang kerja buruh pabrik dengan satu anak. Saya minta pemerintah bisa membangukan rumah dengan cepat. Saya maunya tanah dibayarin dan dibangun rumahnya meskipun bangunan hanya dari bambu juga yang penting di sini lagi, engga kemana-mana,” pintanya lirih.
Adik ibu Cacih, Perni Rindayani (45) yang juga ikut tinggal di rumah bersama suami dan kedua anaknya tersebut menginginkan hal yang sama.
“Saya pengen disumbang sama pemerintah, kalau ngontrak perlu uang banyak, meskipun kalau mau ke air saya harus kebawah saya tetap mau tinggal di sini. Nebeng di rumah tetangga malu,” terangnya.
Perni juga mengaku selalu mendapatkan bantuan seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan bantuan lainnya. Namun untuk Program Pembinaan Keluarga Harapan (PKH) tidak pernah mendapatkan.
Bahkan janji-janji renovasi rumah pun sudah banyak ditawarkan namun tidak pernah terbukti.
“Dulu pernah ada yang mau bantu, janjinya bulan Agustus, sekarang sudah lewat, mudah-mudahan dengan kedatangan Pak Sekda menjadi harapan bagi kami untuk bisa memiliki rumah yang layak untuk dihuni,” tutupnya. (cr11/t)





